Uwais

Oleh Abu Alif Alfatih

KISAH Uwais al-Qarni selalu menggetarkan hati. Digambarkan dalam pelbagai riwayat, Uwais adalah pemuda yang dikarunia ketaatan dan cinta tak bertara kepada sang bunda. Pernah menderita sakit belang-belang pada tubuhnya, namun beroleh kesembuhan lantaran doanya. Hidup sezaman dengan rasulullah, tinggal di Qarn Yaman yang berjarak 400-an kilometer dengan Madinah, kota di mana sang rasul berdiam.

Meskipun demikian, Uwais, yang sejak awal telah mengimani seruan-seruan Nabi Muhammad shalallahualaihi wasalam, tidak pernah bertatap muka dengan Sang Nabi sampai ia wafat sebagai syuhada dalam perang Shiffin era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Karena itulah, ia tidak masuk sebagai golongan sahabat, melainkan tabiin.

Sejak awal, keberadaannya telah disampaikan dalam nubuat dan terpateri dalam sanubari para sahabat. Selama bertahun Umar bin Khattab selalu menunggu, dan baru bertemu setelah ia menjadi khalifah. Memang bukan hal mudah buat menjumpai Uwais. Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, rasulullah melukiskan, ia demikian majhuul, tersembunyi oleh pandangan bumi, namun sangat termasyhur di kalangan langit. Konon, ia memang seorang buruh penggembala sekadarnya yang tak mengundang selera siapapun buat mengetahuinya. Hidup dalam sepenuh kesederhanaannya. Menjadi yatim sejak kanak dan membhaktikan hidup bagi bundanya yang lumpuh dan buta.

Sewafat bundanya, terkabar ia berpindah ke Kufah. Hidup miskin dan terasing di sana. Satu dua ulama kerap memburunya untuk bermohon doa lantaran tahu maqam Uwais sebagai zahid agung yang bahkan mampu memberi syafaat kepada Bani Rabiah dan Mudar ketika hari kebangkitan.

Uwais adalah legenda kesalehan yang menembus labirin madzab-madzab. Mungkin kita membayangkan, ia bagai avatar yang mengembara di bumi fana. Anehnya, kesahajaannya justru begitu membahana. Hal yang kemudian patut diteliti, di wilayah mana sebenarnya kita ingin membacanya: antara sahaja dan bahananya?

Sedang kita tahu, tak banyak yang bernyali menempuh zuhud dalam makna yang sebenarnya. Kehidupan manusia telah terlalu dalam terperosok dalam ukuran-ukuran yang serba material, sementara keimanan adalah hal nisbi yang tak gampang diibaratkan.

Betapa Uwais adalah hakikat yang luput dari pandangan. Ia berjalan dalam alur nafas sang Adi Qodrati. Ia menjadi cermin, betapa takutnya kita ini bernasib nista dan menderita di hadapan manusia. Dalam hari-hari kita senantiasa memupuk istiqomah, namun di lain fihak kita mudah lalai bersekongkol dengan beragam kecemasan yang membuahkan pelanggaran-pelanggaran yang seringkali kontra dengan iman dan doa-doa yang kita panjatkan.

Setelah capai menghias diri dalam aneka percaturan kehidupan, kadang lamat kita bertanya, kemana sebenarnya penghabisan langkah manusia? Naluri manusia yang tak jemu-jemu memupuk kehormatan, membendung arus kemiskinan, membina pengetahuan, membangun benteng-benteng kemenangan, seringkali keluar dari garis yang mengkuatirkan. Kita pasti tak rela berada dalam tataran yang sekedar terjebak remeh temeh hal-ihwal, yang sering justru terbungkus cahaya dan tata-warna yang menyilaukan.

Betapapun juga, bergerak dalam kepasrahan yang ekstrim memang bisa mengantar kita terlalu romantik dan kerdil. Tapi di garis inilah muncul semacam gema yang mempertanyakan, kekerdilan macam apakah yang sebenarnya kita gentarkan?

Uwais berbeda, karena telah terlepas dari kekisruhan yang tegang dan menggelisahkan demikian. Yang bagi kita adalah penderitaan bisa jadi berbalik makna baginya. Ia memang dimensi pengetahuan ranah lain yang tak lazim. Ia adalah hamba yang berdendang dalam kebahagiaan iman dan berselancar di atas gelombang risiko-risikonya. Ia begitu sulit dipahami. Ia laksana kekasih langit yang azali.

Uwais, dengan pola keilmuan dan kehidupan yang ganjil, rumit dan terasing, memang bukan kiblat yang ideal dan aman bagi upaya umat manusia merajut hidup di bumi kini. Namun demikian, ia menjadi bilik kerinduan siapa saja yang menyadari: betapa jauhnya kita tersedot dalam pusaran fatamorgana dunia yang fana. Mengutip al-Fadhâil rasullullah bersabda:

“Telah berhembus angin surgawi dari Qaran. Betapa rindunya diri berjumpa denganmu duhai Uwais. Maka, barangsiapa yang berjumpa dengannya, sampaikanlah salamku padanya.”

 

 


Related Posts

About The Author

Add Comment