Ustad Khalid

OLEH DS PRIYADI

Berikut ini sebuah catatan oleh DS Priyadi, pimpinan umum Oasemuslim.com, terkait dengan pemberhentian pengajian ustadz Khalid Basalamah di Sidoarjo. Semoga bermanfaat. –Redaksi

Khalid digelari Nabi kita sebagai pedang Allah yang terhunus. Ya, kita semua telah memakluminya, beliau adalah jenderal perang kaum muslimin yang selalu memenangkan peperangan yang dipimpinnya. Jika musuh mendengar bahwa Khalidlah yang memimpin pasukan, maka hati mereka lebih dahulu menggemerincingkan rasa gentar.

Tapi itu Khalid bin Walid. Ia sama sekali berbeda dengan Ustad Khalid Basalamah, seorang da’i yang akhir-akhir masyhur, di mana pengajian-pengajiannya selalu ramai dihadiri oleh jamaah. Di satu sisi, beliau dihormati lantaran keilmuannya. Di sisi yang lain ia dicaci, diolok-olok, dan dijuluki gembong wahabi yang berbahaya. Yang terakhir, di Sidoarjo, belum genap 30 menit ceramahnya dihentikan.

Benarkah beliau seburuk dan seberbahaya yang disangkakan? Jika kita mengaku menjunjung asas tabayyun sebagai filter dalam menyaring validitas informasi, tentu segalanya mesti kita teliti dan perinci. Benarkah ia pembenci NU? Benarkah ia gampang mengkafir-kafirkan? Benarkah ia pemecah belah ummat?

Tabayyun atau laku verifikasi di sini menjadi sebuah keniscayaan. Karena jika tidak, artinya kita sendiri terjebak dalam egosentrisisme, dimana kitalah yang terbenar dan yang lain pasti keliru. Perihal wahabi itu, sudah banyak pemaparan atasnya dan memang berbeda antara wahabi secara historis dengan wahabisme versi orientalis? Wahabi secara historis telah menjadi momok traumatis dalam sejarah Islam, yaitu sebuah sekte yang keras dan sangar, yang tidak segan-segan menghukumi kafir kepada muslim yang dianggapnya tak sepaham.

Karena bobot traumatiknya itu Daulah Attaturk kemudian menggunakaun istilah wahabi untuk menstempel merah atas perilaku dakwah yang menegakkan sunnah, yang kala itu sedang gencar disyiarkan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, agar tidak memasuki wilayah kekuasaannya. Di sini sejarah mencatat bahwa Wahabi merupakan firqah sempalan yang muncul pada abad ke 2 Hijriyah, dinisbatkan kepada tokoh sentralnya yang memiliki kemiripan nama yaitu Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum (wafat tahun 211 H), jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1206 H).

Jika mau menilik, Ustad Khalid tentu jauh dari tabiat takfiri sebagaimana firqoh wahabi ala Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Stempel atas beliau sebagai gembong wahabi sekiranya terlalu keras serta jauh dari setimpal. Namun apa boleh buat, dewasa ini istilah wahabi terlanjur menjadi dikotomis untuk menunjuk suatu gerakan yang meluruskan jalan Islam. Bahkan presiden Soekarno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua, tahun 1963. pada halaman 390, menggunakan istilah serupa. Beliau menulis:

“Tjobalah pembatja renungkan sebentar “padang-pasir” dan “wahabisme” itu. Kita mengetahui djasa wahabisme jang terbesar: ia punja kemurnian, ia punja keaslian, – murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada Islam dizamanja Muhammad! … Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannya seribu satu tahajul dan seribu satu bid’ah.”

Konteks kemurnian di atas tentunya dalam perihal ibadah dan bukan budaya, dimana selama ini sering bercampurbaur, sehingga memunculkan sikap resisten di kalangan masyarakat yang terikat erat dengan nilai-nilai tradisinya. Memang menjadi hal yang tak terhindarkan, karena dalam implementasinya hukum-hukum agama sering tampil berperan mendudukkan perkara, me-review nilai maslahatnya. Artinya, jika memang tradisi berhajat baik memperbaiki mutu hidup manusia, ia mesti lentur dan terbuka. Bukan sebaliknya, dijadikan sebagai hal yang harus mati-matian dipertahankan jauh melampaui iman.

Ustad Khalid bukanlah nabi. Beliau tak selamanya benar. Sebagaimana kerap disampaikannya sendiri, ia hanya manusia biasa yang juga dihinggapi kekeliruan-kekeliruan. Tapi sebagai seorang da’i, sejauh ini ceramah-ceramahnya berusaha memberikan perkabaran yang terang atas firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah. Sebagaimana lazimnya, beliau menyampaikan hukum-hukum yang tegas dan memang tak bisa ditawar-tawar. Tapi yang bernilai polemik (khilafiyah-red), beliau pun cukup komparatif memaparkan pelbagai pandangan ulama-ulama besar dari kalangan sahabat, tabi’in dan setelahnya.

Dan di sinilah justru sisi menariknya. Ada ruang yang longgar bagi mereka yang butuh melacak keabsahan sebuah ajaran. Ustad Khalid, berusaha memenuhi perannya sebagai juru kabar yang referensif. Kita boleh saja tak percaya, namun memiliki gerak yang leluasa buat menelusuri kebenarannya. Dan memang, fakta yang terjadi seringkali berakhir pahit:  karena mungkin berseberangan dengan kebiasaan yang selama ini kita junjung. Maka di situlah iman kita diuji.

Syahdan, caci-maki, olok-olok, dan pemberhentian pengajian ustad Khalid akan menjadi momentum yang terus dikenang. Bukan soal setuju tidak setuju atau sesuai tidak sesuai. Namun jika memang terbukti di taklim itu yang disampaikan adalah ajaran mulia dari Rabb kita, o, betapa nekatnya. Betapa menyedihkannya.

Sumber Gambar: www.masjidagungtransstudiobandung.com

Related Posts

About The Author

Add Comment