Tugas mulia para ibu rumah tangga

Para ibu rumah tangga muslim yang kami hormati. Betapa tugas-tugas harian seorang ibu rumah tangga tidaklah ringan. Dari menyiapkan segala keperluan suami, merawat dan mendidik anak, memasak, membersihkan rumah, bahkan ada pula yang lebih sibuk lagi karena membantu suami dengan membuka usaha sampingan di rumah. Ya, betapa repotnya!

Solusi paling umum yang dilakukan kebanyakan keluarga adalah dengan mengambil pembantu. Dengan begitu, pekerjaan menjadi lebih ringan. Menurut nalar yang wajar, mestinya hal itu akan menjadikan situasi dan kondisi rumah tangga menjadi lebih baik.

Namun faktanya tak selamanya demikian. Banyak kasus yang terjadi, hadirnya seorang pembantu di dalam sebuah keluarga tak jarang justru menambah permasalahan. Setidaknya, hal ini bisa kita jadikan kaca pembelajaran.

Banyak keluarga yang mengeluhkan sering kehilangan barang atau uang, dan mencurigai itu adalah perilaku pembantu. Banyak yang tidak puas karena hasil kerja pembantu yang tidak memenuhi standar yang dimaksudkan. Dan yang paling pahit adalah, seringnya kasus perselingkuhan antara pembantu dan majikan.

Kasus lain yang lebih sering terjadi namun tak terlalu kentara, yaitu munculnya hirarki hubungan yang terlalu mencolok antara sang majikan dan pembantu. Menghadapi kekurangan-kekurangan seorang pembantu bukanlah perkara yang ringan. Kita semua memaklumi, siapalah orangnya yang berkenan menjadi seorang pembantu, selain daripada bahwa ia berada dalam banyak keterbatasan.

Jika seseorang tidak memiliki keluasan hati untuk menerima keterbatasan-keterbatasan tersebut, maka bisa terjadi seorang majikan bersikap merendahkan sang pembantu, dan tentu saja ini akan berakibat buruk untuk kedua belah fihak. Adalah hal yang niscaya, jika sebuah rumah memiliki seorang pembantu, mesti melengkapi diri dengan kesabaran dan kebijaksanaan yang ganda, agar sang pembantu tetap terjaga kehormatan dan hak-haknya sebagai manusia.

Tak dipungkiri, tugas ibu rumah tangga memang berat. Di sinilah pentingnya pengertian dan kesadaran sang suami, supaya bisa turut membantu merampungkan pekerjaan-pekerjaan sang istri, bila kesempatan memungkinkan.

Namun demikian, jika kita lebih rinci meneliti, yang dimaksud ‘berat’ seringkali adalah persoalan rasa capai yang ditimbulkan berbagai pekerjaan yang dilakukan. Rasa capai tentu hal yang normal, sejauh kuota pekerjaan yang dilakukan memang dalam taraf memungkinkan dihandle dan bisa dikatakan wajar. Di sini bisa dibandingkan: apakah jadinya jika seorang ibu rumah tangga terbebas dari tanggung jawab atau pekerjaannya lantaran adanya seorang pembantu yang telah merampungkan semuanya?

Sudah menjadi fakta psikologis siapa saja, bahwa menganggur pun ternyata lebih melelahkan dibandingkan jika seseorang memiliki aktivitas. Sehingga, kemungkinan paling besarnya adalah, mereka yang terbebas dari tanggung jawab rumah tangganya akan mencari kegiatan lain yang tidak menjamin nilai kemanfaatannya.

Para ibu rumah tangga muslim yang kami hormati. Pekerjaan rumah tangga hakikatnya adalah tugas yang mulia. Hubungan kasih-sayang keluarga antara isteri dan suami, atau antara anak dan orang tua justru seringkali tumbuh dari rutinitas harian tersebut. Betapa itu adalah kesempatan berharga dan amat disayangkan jika harus diambil alih orang lain.

Jika kita mengerjakannya dengan penuh keikhlasan dalam rangka menunaikan ketaatan terhadap suami dan melayani kebutuhan anak-anak, tentulah kita akan merasa berbangga dan berbahagia. Apalah lagi yang bisa membahagiakan kita selain dari memberikan pengabdian kepada orang-orang yang kita cintai? Rasa lelah tentu ada, tapi tak sebanding dengan kebahagiaan yang kita terima.

Dalam kasus serupa, ada sebuah riwayat, dimana putri Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, Fatimah Azzahra, datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam untuk meminta pembantu. Namun demikian Nabi shalallahu alaihi wasalam tidak memenuhi permintaan putri tercintanya itu, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ الْمَعْنَى عَنْ الْحَكَمِ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيٌّ قَالَ شَكَتْ فَاطِمَةُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَلْقَى فِي يَدِهَا مِنْ الرَّحَى فَأُتِيَ بِسَبْيٍ فَأَتَتْهُ تَسْأَلُهُ فَلَمْ تَرَهُ فَأَخْبَرَتْ بِذَلِكَ عَائِشَةَ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ فَأَتَانَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْنَا لِنَقُومَ فَقَالَ عَلَى مَكَانِكُمَا فَجَاءَ فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي فَقَالَ أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu’bah]. (dalam jalur lain disebutkan). Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Syu’bah] secara makna, dari [Al Hakam] dari [Ibnu Abu Laila] berkata; [Musaddad] berkata; telah menceritakan kepada kami [Ali] ia berkata:

“Fatimah mengeluh kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal tangannya yang lecet. Suatu ketika didatangkan tawanan-tawanan kepada beliau. Maka Fatimah pun datang kepada beliau meminta (pembantu), namun ia tidak berjumpa dengan beliau (Nabi shalallahu alaihi wasalam).

Akhirnya permintaan itu beliau sampaikan kepada ‘Aisyah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam datang, ‘Aisyah menyampaikan hal itu kepada beliau. Akhirnya beliau dan ‘Aisyah datang menemui kami yang waktu itu telah tidur. Maka kami pun bangun, tetapi beliau bersabda:

“Tetaplah kalian di tempat kalian.” Beliau datang dan duduk di antara kami, sehingga aku dapat merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau lalu bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih berharga dari apa yang kalian minta? Jika kalian akan tidur maka bacalah tasbih sebanyak tiga puluh tiga, tahmid tiga puluh tiga dan takbir tiga puluh empat kali. Maka itu akan lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu.” [Sunan Abu Daud 4403]

Memang, memiliki pembantu bukanlah hal yang terlarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memiliki pembantu-pembantu. Namun demikian, dalam kasus ini, merujuk dari hadits di atas, kita bisa memetik pelajaran bahwa memiliki pembantu bukanlah sebuah prioritas. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik teladan tentu memiliki pelbagai pertimbangan atas nilai baik dan buruknya.

Semoga riwayat ini bisa memotivasi siapa saja agar lebih mencintai tanggung jawab yang dimilikinya, serta meyakini faedah-faedah baik di dalamnya, sehingga rasa lelah dan segala kerepotan dalam menunaikan pekerjaan rumah tangga tidak lagi menjadi sebuah beban dan kendala. Dan semoga kita diberikan kemampuan untuk mengamalkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu membaca tasbih, tahmid, takbir sebelum beranjak tidur sebagaimana diwasiatkan kepada Ali dan Fatimah. Wallahu a’alam bishawab. — Abu Alif Alfatih

 

Related Posts

About The Author

Add Comment