Syaikh ‘Utsaimin: Hukum membawa anak kecil ke masjid

Diterjemahkan oleh Bahruddin Al Kutawy

Soal : Sebagian org2 yang shalat membawa anak-anak mereka yang belum mencapai usia tamyiz (bisa membedakan baik dan buruk), anak-anak itu tidak shalat dengan baik, mereka bershaf di dalam shaf orang-orang yang shalat, dan sebagian mereka bermain-main dan mengganggu orang di sekitar mereka. Apa hukumnya? Dan apa solusi anda untuk mereka orang tua dalam perkara anak-anak mereka?

Dijawab oleh Syaikh ‘Utsaimin Rohimahullah : dalam perkara yang saya ketahui membawa anak-anak “yang mengganggu orang-orang yang shalat” adalah tidak boleh, karena hal ini merupakan gangguan bagi orang-orang muslim yang menunaikan kewajiban (shalat) mereka, dari kewajiban-kewajiban Allah. Dan Rosul shalallahu alaihi wa salam pernah mendengar sebagian sahabat yang mengerjakan shalat dengan mengeraskan bacaan mereka, maka Rosul bersabda: “janganlah kalian saling mengeraskan bacaan kalian di dalam membaca Al Qur’an” dan di dalam riwayat lain Rosul shalallahu alaihi wa salam bersabda: “dan janganlah kalian mengganggu yang lainnya”. Maka perbuatan apa saja yang di dalamnya terdapat gangguan bagi orang yang shalat, tidak halal bagi seseorang utk melakukanya.

Maka nasehatku kepada mereka orang tua untuk anak-anak mereka adalah tdk membawa mereka ke masjid. Hendaklah mereka mengambil bimbingan yang telah Rosul shalallahu alaihi wa salam ajarkan: “Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat di usia 7 tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan ringan) ketika mereka tidak mau mengerjakan di usia 10 tahun keatas”.

Saya juga memberikan nasihat kepada orang-orang yang berada di masjid agar mereka melapangkan dada mereka dengan bersabar terhadap anak-anak yang berada di masjid lebih dulu dari pada sebagian muslim yang ada. Janganlah bersikap keras kepada anak anak tersebut atau mengusir mereka yang mana mereka lebih dulu berada di tempat (shaf) itu. Karena sesungguhnya barang siapa yang berada di suatu tempat lebih dulu, maka dia yang lebih berhak terhadapnya, sama saja antara anak-anak maupun orang yang sudah baligh.

Ketika mengusir anak-anak kecil dari shaf mereka maka hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak:

– Pertama: mengabaikan hak mereka, karena siapa yang lebih dahulu terhadap sesuatu yang belum ada pemiliknya dari kalangan muslim maka yang pertama kali inilah yang berhak.
– Kedua: membuat anak kecil tidak mau ke masjid lagi
– Ketiga: membuat anak-anak kecil menyimpan dendam dan menimbulkan kebencian terhadap mereka yang bersikap keras kepada anak dan mengusir mereka dari shaf yang mana shaf tersebut   sdh lebih dulu mereka isi.
– Keempat: mengusir mereka dari shaf malah menjadikan mereka (anak2) saling bertemu satu sama lain di shaf belakang. Maka tambah jadi mereka bermain bersama-sama dan mengganggu orang-orang yang berada di masjid. Padahal tidak akan terjadi selama anak-anak berada di antara orang dewasa yang baligh.

Sedangkan apa yang telah disebutkan oleh sebagian ahli ilmu bahwa anak anak dilarang menempati shaf pertama dan di pindahkan ke shaf yang paling belakang berdasarkan hadits yang diriwayatkan imam Muslim ليلتي منكم اولو الاحلام الخ  “hendaklah yang berada di belakangku (shaf pertama bagian tengah) adalah kalangan dewasa yang berilmu”. Namun hadits ini bertentangan dengan hadits Nabi shalallahu alaihi wa salam: “Barang siapa yang lebih dulu terhadap sesuatu yang belum ada pemiliknya (dalam hal ini shaf) maka dia lebih berhak”.

Berdalil dengan hadits “Hendaklah yang berada di belakangku adalah kalangan dewasa yg berilmu” tidaklah tepat, karena makna hadits ialah berupa “anjuran” bagi yang lebih berilmu untuk maju ke shaf depan dan berada tepat di belakang Rosul shalallahu alaihi wa salam karena  mereka lebih memahami fiqih dibanding yang kecil, mereka yang dewasa lebih kuat pengetahuannya dalam pandangan Rosul shalallahu alaihi wa salam dan lebih mendengar bacaan. (point’ penting) Rosul tidak mengatakan “Janganlah kalian berada di belakangku KECUALI yang berilmu” jika sekiranya beliau mengatakan seperti itu, barulah pendapat menyuruh anak keluar dari shaf (mengusir) adalah pendapat yang terkemuka. Namun bentuk perkataan dlm hadits tadi adalah berupa ANJURAN bagi yang berilmu agar maju berada tepat di belakang Rosul shalallahu alaihi wa salam.
_____________________________________
Kumpulan fatwa dan catatan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullah edisi ke 15, bab shalat jamaah

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber : https://ar.islamway.net/…/%D8%A5%D8%AD%D8%B6%D8%A7%D8…

Related Posts

About The Author

Add Comment