Surplus nikmat dari Yang Maha Mengasihi lagi Maha Memberi

Sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wasalam, Abdullah bin Mas’ud, adalah orang yang pertama kali melantunkan Al-Quran Mulia secara terbuka. Saat itu beliau membacakan surah Arrahman di hadapan petinggi-petinggi Quraisy. Dalam surah tersebut Allah subhanahu wata’ala berfirman: Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan? Dan pertanyaan tersebut diulang-ulang dalam berbagai ayat hingga 31 kali.

Tentu saja, kita tak sanggup memungkiri seluruh nikmat yang Allah karuniakan. Allah subhanahu wata’ala telah menjaga keselarasan alam semesta ini, sehingga kehidupan di muka bumi bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dan kita patut bersyukur, bahwa hingga hari ini kita berada dalam keadaan baik, tak kurang suatu apa.

Dengan badan yang sehat kita bisa bekerja untuk keluarga dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Mungkin ada kalanya kita mengalami kesusahan karena memperoleh sedikit penghasilan. Kita berucap syukur alhamdulillah, karena yang sedikit dalam pandangan kita itu bukanlah alasan yang pantas bagi kita untuk menafikan nikmat-nikmat Allah yang lain, yang notabene jauh lebih banyak perbandingannya dari yang sedikit itu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nahl:18].

Namun demikian, dalam hidup sehari-hari kita sering dihadapkan pada fakta-fakta yang dengan mudahnya bisa menghalangi pandangan kita atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Segala bentuk kekuatiran adalah benih penyakit hati, dan yang nyata menjangkiti banyak manusia adalah kekuatiran atas kemiskinan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dewasa ini kemiskinan bukan lagi difahami secara harafiah, yaitu kurangnya sandang atau pangan yang bisa membikin macet peri kehidupan seseorang. Yang umum terjadi dalam masyarakat kita adalah, bahwa kemiskinan tercipta oleh sebab adanya hirarki sosial yang begitu ketat menuntut persamaan antara satu dan lainnya.

Misal, jika si fulan punya rumah besar, maka si tetangga yang rumahnya lebih kecil bisa merasa menderita karena terdorong untuk menyamakan kondisi rumahnya. Lebih menderita lagi, apabila secara mayoritas rumah-rumah yang lain di sekitarnya lebih baik kondisinya dari yang dimiliki. Maka orang pun bisa merasa diri miskin, rendah dan menderita, meskipun Allah telah mencukupkan segala kebutuhannya.

Belum lagi perkara-perkara lain yang mencakup penampilan seseorang seperti jabatan, kendaraan, pakaian, gadget dan lain-lain semacam itu, seringkali menjadi ajang saling unggul-mengungguli antara satu dan lainnya. Dalam hal apa saja, perlombaan yang demikian tidaklah akan ada ujung pangkalnya.

Terhanyut dalam arus perlombaan semacam itu sama halnya dengan menimbun deposito penderitaan yang akan terus menggelembung. Pada taraf yang parah bahkan bisa mengembangbiakkan penyakit iri dan dengki, yang bisa menggerogoti keimanan seseorang.

Hakikatnya, sejauh manusia telah berusaha maksimal dalam memenuhi nafkah penghidupannya, maka tak ada paksaan baginya harus berlaku setimbang dengan keadaan orang lain yang dipandang lebih baik darinya.

Karena Allahlah yang maha memahami segala ketetapan yang dibuat bagi hamba-hambanya. Mungkin seseorang berada dalam suatu kekurangan atas suatu hal, namun bisa jadi ia berlebih dalam hal yang lain. Atau mungkin pula, ada sesuatu yang keliru yang kita belum menyadarinya sehingga dibutuhkan sikap terbuka serta tekad untuk memperbaikinya. Bertindak evaluatif adalah tindakan mulia, sejauh tidak menggerus rasa syukurnya.

Karena dalam kondisi apapun, rasa syukur adalah sikap terbaik yang sepatutnya dilakukan seorang hamba. Di sinilah prasangka baik seseorang terhadap Rabb-nya diuji. Rasa syukur membuahkan sikap pengabdian kepada Tuhan yang melahirkan ketenangan, kebahagiaan, serta bertambahnya nikmat. Sementara meladeni perlombaan kepemilikan dengan kanan-kiri hanya akan membawa penderitaan dan kekuatiran. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surah Ibrahim:7)

Rasa syukur adalah manifestasi dari kegagahan jiwa seorang hamba yang menautkan hidupnya dengan Allah semata. Mungkin kita merasa berada dalam keadaan yang paling terpuruk, namun rasa syukur tidaklah membutuhkan suatu prasyarat yang repot dan berlebihan.

Apa yang perlu kita syukuri adalah apa yang tengah kita hadapi kini, sementara misteri yang bakal terjadi esok hari adalah perkara berbeda, yang Allah tidak menuntut kita untuk mengkuatirkannya. Kewajiban manusia adalah berusaha, sementara kecukupan adalah tanggung jawab Allah subhanahu wata’ala.

Bahwa hari ini kita dalam keadaan sehat, bahwa kita bisa berkumpul dengan keluarga, bahwa kita dalam keadaan yang aman tenteram, bahwa kita tidak sedang dalam kelaparan, maka itulah sebaik-baik keadaan manusia –yang maqam kebaikannya “ibarat dunia telah berada dalam genggaman kita.” Di luar itu, segala hal yang kita miliki tak lain adalah surplus nikmat dari Yang Maha Mengasihi lagi Maha Memberi. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?

Nabi Shallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya. [HR Ibnu Majah, no. 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 5918]

Sahabat muslim yang budiman. Semoga Allah memperkokoh tiang iman dalam diri kita, sehingga kita terjauh dari tabiat kuatir atas segala hal yang bisa menimbulkan perlombaan-perlombaan fana, yang bisa menggerus rasa syukur kita. Serta, semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita untuk mampu mensyukuri setiap nikmat yang diberikanNya. Wallahu a’alam bishawab. —Abu Alif Alfatih

Related Posts

About The Author

Add Comment