Sebuah Catetan: Sang Panutan

Foto: studio nolsatu

Oleh Nadirsyah Hosen
Utusan PCI NU Australia – New Zealand di Muktamar ke 33 Jombang

MUKTAMAR NU melahirkan dinamika yang luar biasa. Banyak yang bertanya kepada saya: adakah cerita yang melegakan kami dari Muktamar yang gaduh ini? Kenapa KH A Mustofa Bisri tidak bersedia menjadi Rais Aam? Bagaimana nasib NU ke depan? Saya tuliskan catatan di bawah ini untuk memenuhi pertanyaan dan kegelisahan kawan-kawan:

Pada malam kedua Muktamar, Gus Mus menghampiri area kediaman saya di tempat Syekh Muhlashon, lalu kami keluar untuk makan malam. Gus Mus mengaku bahwa salah satu agenda utama beliau ke Muktamar pengen bertemu dengan saya. Subhanallah rendah hati sekali beliau. Di pertemuan khusus tersebut beliau cerita banyak hal. Dan ketika saya pancing soal posisi Rais Aam beliau berkisah panjang pada peristiwa Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khattab dimana yang pertama mengatakan: ada dua orang yg kena laknat yaitu mereka yang tidak pantas namun menginginkan posisi, dan mereka yang pantas namun tidak bersedia.

Gus Mus merasa masuk kategori pertama karena banyak yang lebih pantas dari beliau. Saya merayu beliau untuk tetap bersedia menjadi Rais Aam dengan mengingatkan beliau resiko bisa masuk kategori kedua. Beliau tetap tidak mau. Tawadhu’ sekali beliau. Di saat banyak yang kepengen dan rebutan posisi, beliau mencontohkan tauladan mulia kepada kita semua.

Syekh Muhlashon (Mesir) dan Syekh Qomar (Melbourne) ikut menemani pertemuan khusus saya dengan Gus Mus di warung pojok. Sebelum beliau masuk mobil, saya minta beliau mendoakan kami. Doa panjang beliau di parkiran itu sangat menyentuh. Air mata saya menetes membayangkan apa yg terjadi di Muktamar keesokan harinya. Malam itu jam 11.30 malam ditemani Mbah Candra Malik saya berziarah dan berdoa di makam Hadratus Syekh di Tebuireng.


Esok harinya saya kaget menerima mesej Gus Mus yang meminta saya ikut hadir dalam pertemuan terbatas para Rais Syuriah PWNU /PBNU dan kiai sepuh di pendopo kabupaten yang membahas situasi Muktamar yang sangat genting. Itu sebabnya mendadak saya ikut hadir di sana semata-mata karena diperintah Gus Mus, bukan karena saya layak hadir di sana. Beliau rupanya sedang memberi pelajaran kepada saya untuk menyimak dan belajar kepada para kiai sepuh. Kita tahu selepas pertemuan itu Gus Mus masuk ke arena Muktamar dan kemudian menenangkan Muktamirin.

Gus Mus menyampaikan pengantar yang mengharukan di sidang pleno: “Saya bersedia menciumi kaki-kaki kalian para peserta Muktamar, memohon agar kalian memegang teguh akhlakul karimah.” Dan isak tangis mulai terdengar di arena. Saya pun menangis menyaksikan kerendahan hati sang Rais Aam.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari Muktamar kali ini. Semoga kita bisa ambil hal yang baik termasuk ketauladanan Gus Mus dan bertekad untuk mengubah hal-hal yg masih kurang baik di kemudian hari pada saat kita mendapat amanah untuk memperbaikinya.


Gus Mus sekarang kelihatannya akan fokus membina mereka yang dalam mesej-nya kepada saya disebutnya dengan “adik-adik muda yang berwawasan”. Saya sempat ditemui Ning Alissa Wahid yang menyampaikan bahwa Gus Mus sudah minta diadakan pertemuan setelah beliau tidak lagi jadi Rais Aam. Rencananya pertemuan itu tgl 4 malam di saat beliau sdh demisioner. Tapi kita tahu bahwa Muktamar molor dan beliau tidak jelas demisionernya kapan.

Saya pun terpaksa meninggalkan arena Muktamar karena mengikuti jadual penerbangan. Saya beli tiket sendiri jauh-jauh dari Ausie, bukan dibayarin timses. Tiket saya bisa hangus kalau saya mau mengikuti Muktanar sampai akhir. Tepat sebelum sidang pleno penetapan ahwa dibuka saya sudah dalam perjalanan menuju Juanda airport. Semoga setelah saya pergi meninggalkan arena Muktamar kemarin, masih akan berlanjut pertemuan Gus Mus dengan kawan muda tersebut.

Beliau kelihatannya akan memainkan peranan menjadi tempat kawan-kawan muda mengadu dan belajar. Peranan di luar sistem ini sangat penting karena menurut beliau sulit mengharap muncul kader muda dari sistem saat ini. Jadi yakinlah Gus Mus tidak akan sepenuhnya lepas tangan terhadap masa depan NU.

Beliaulah yang akan menjadi figur mengayomi gerakan NU kultural para anak muda NU. Beliaulah sang panutan. Beliaulah teladan kami. Beliaulah yang bersedia melangkah menemui para anak muda –yang sekaligus membuat kami salah tingkah dengan ketulusan beliau ini.


Di akhir pertemuan saya tanya Gus Mus: “Melihat kondisi Muktamar seperti ini, apa masih ada harapan utk NU ke depan?” Beliau dengan gaya khas nya menjawab: “Tentu saja masih ada. Kalau saya tidak punya harapan lagi akan nasib NU gak mungkin saya mau menghampiri sampeyan. Kalau putus asa dan gak merasa ada harapan lagi, ya ngapain kita semua masih hidup?” Jawab beliau sambil tersenyum.

Jadi kawan-kawan! Harapan perbaikan itu masih ada, dan semoga kita semua menjadi bagian dari harapan itu. Semoga Allah mengampuni kita dan semoga Allah terus membimbing kita untuk berkhidmat pada umat dimanapun dan apapun posisi kita. Amin ya Rabbal Alamin.

— Tulisan ini juga dipublish pada fb Nadirsyah Hosen, dengan penyesuaian redaksi.

 

 

 

Related Posts

About The Author

Add Comment