Saya sangat menderita batin. Bolehkah saya mengajukan gugatan cerai?

Pembaca yang budiman. Berikut kami sampaikan sebuah keluhan dari seorang pembaca yang dikirim melalui email redaksi@oasemuslim.com. Beberapa email serupa kami terima, namun pada intinya maksud pertanyaannya sama. Kami kutipkan sebuah surat dari Ibu Enha yang sekiranya bisa mewakili yang lainnya:


Saya seorang ibu rumah tangga yang bekerja. Ketika menikah, suami tak bekerja. Baru empat tahun ini suami bekerja. Saya sadar, gajinya kecil, sehingga saya tidak pernah menuntut nafkah darinya. Dan saya pun tak pernah diberi nafkah, karena gajinya habis untuk dirinya sendiri. Itu semua tak saya permasalahkan.

Saat saya kekurangan biaya, suami marah-marah, sampai-sampai dia mencaci maki saya karena tak sanggup mencukupi kebutuhan anak. Malahan dia menghina saya dengan mengatakan saya seorang pelacur karena dulu saya sering ke rumahnya. Dan dia juga mengatakan saya perempuan tidak beres, kalau bukan dia suami saya, saya tak akan pernah dapat suami. Sangat sedih hati saya.

Saya sering dilarang berhubungan dengan kedua orang tua saya dan saudara-saudara saya, padahal mereka tidak mengganggu kami. Dia takut kalau saya akrab dengan keluarga saya, uang saya habis oleh mereka. Padahal merekalah yang sering membantu saya.

Sekarang ini saya seperti mati rasa terhadap suami, malas sekali melayaninya. Saya pun menjadi seorang ibu yang sangat pemarah pada anak. Saya sangat menderita batin bila ingat kata-katanya yang sangat membuat saya menjadi tidak berharga di matanya. Bolehkah saya mengajukan gugatan cerai?


Ibu Enha yang kami hormati. Kami turut prihatin dengan kondisi yang ibu sampaikan. Semoga ibu dan kita semua bisa mengambil hikmah dari perkara ini. Memang sesuatu yang berat. Namun hakikatnya suatu problem dalam rumah tangga banyak dialami yang lainnya. Dan sejauh bisa, mempertahankan keutuhan keluarga adalah perbuatan yang mulia, lebih-lebih apabila sudah dikaruniai putra atau putri.

Sebagai orang tua kita berfikir, seperti apakah nasib putra dan putri kita ke depan apabila kedua orang tuanya menempuh jalan cerai. Dalam batas-batasnya perceraian memang dibolehkan. Namun demikian, hakikatnya perceraian adalah jalan final, ketika berbagai macam sikap dan cara memang tak mampu lagi menanggulangi, yang notabene menghambat seseorang dalam menunaikan ibadahnya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Karenanya ada baiknya ibu mencoba bersabar. Adukan permasalahan ini kepada Allah yang maha suci dan maha tinggi. Tetap jaga aib suami dan bermohonlah agar Allah memberikan hidayahnya, membimbingnya ke jalan iman dan Islam.

Adapun, mengenai permintaan cerai dari pihak istri, berdasar hukum asalnya seorang wanita sebenarnya dilarang untuk meminta dicerai. Rasulullah shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

“Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga” (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Hadits ini menunjukkan ancaman yang sangat keras bagi seorang wanita yang meminta perceraian tanpa ada sebab yang syar’i yang kuat yang membolehkannya untuk meminta cerai. Sebagaimana dikatakan Abu At-Toyyib Al’Adziim Aabaadi, “Yaitu tanpa ada kondisi mendesak memaksanya untuk meminta cerai (Maka haram baginya bau surga) yaitu ia terhalang dari mencium harumnya surga, dan ini merupakan bentuk ancaman dan bahkan bentuk mubaalaghoh (berlebih-lebihan) dalam ancaman, atau terjadinya hal tersebut pada satu kondisi tertentu yaitu artinya ia tidak mencium wanginya surga tatkala tercium oleh orang-orang yang bertakwa yang pertama kali mencium wanginya surga, atau memang sama sekali ia tidak mencium wanginya surga. Dan ini merupakan bentuk berlebih-lebihan dalam ancaman” (‘Aunul Ma’buud 6/308)

Ibnu Hajar berkata :

أن الأخبار الواردة في ترهيب المرأة من طلب طلاق زوجها محمولة على ما إذا لم يكن بسبب يقتضى ذلك

“Sesungguhnya hadits-hadits yang datang tentang ancaman terhadap wanita yang meminta cerai, dibawakan kepada jika sang wanita meminta cerai tanpa sebab.” (Fathul Baari 9/402)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

“Para wanita yang khulu’ dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Yaitu para wanita yang mengeluarkan biaya untuk meminta cerai dari suami mereka tanpa ada udzur yang syari’ (lihat At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 1/607)

Sebab-Sebab Dibolehkan Khulu

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu‘ (pisah) dari suaminya. Diantara perkara-perkara tersebut adalah :

1. Jika sang suami sangat nampak membenci sang istri, akan tetapi sang suami sengaja tidak ingin menceraikan sang istri agar sang istri menjadi seperti wanita yang tergantung.

2. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

3. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, suka mendengar music, dan sebagainya.

4. Jika sang suami tidak menunaikan hak utama sang istri, seperti tidak memberikan nafkah kepadanya, atau tidak membelikan pakaian untuknya, dan kebutuhan-kebutuhan primer lainnya, padahal sang suami mampu.

5. Jika sang suami ternyata tidak bisa menggauli istrinya dengan baik, misalnya jika sang suami cacat, atau tidak bisa melakukan hubungan biologis, atau tidak adil dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau atau jarang memenuhi kebutuhan biologisnya karena condong kepada istri yang lain. (jika istrinya lebih dari satu)

6. Jika sang wanita sama sekali tidak membenci sang suami, hanya saja sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik. Maka boleh baginya meminta agar suaminya meridoinya untuk khulu‘, karena ia khawatir terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menunaikan hak-hak suami.

7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau buruknya suami.

(Silahkan lihat Roudhotut Toolibiin 7/374, dan juga fatwa Syaikh Ibn Jibrin rahimahullah di http://islamqa.info/ar/ref/1859)

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :

وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها

“Dan kesimpulannya bahwasanya seorang wanita jika membenci suaminya karena akhlaknya atau perawakannya/rupa dan jasadnya atau karena agamanya, atau karena tuanya, atau lemahnya, dan yang semisalnya, dan ia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami maka boleh baginya untuk meminta khulu‘ kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk membebaskan dirinya” (Al-Mughni 8/174).@

Referensi materi dari kajian Syaikh Abu Abdil Muhsin.

Related Posts

About The Author

Add Comment