Semoga Allah meridhoi

Oleh Abu Alif Alfatih

Ada kalanya, memasak dipandang secara patriarkis oleh sebagian orang sebagai pekerjaan kurang keren, yang identik sebagai pekerjaan ibu-ibu rumah tangga. Namun, seorang pria Cina, sahabat muallaf saya dari Bandung, justru menyikapi sebaliknya. Baginya memasak merupakan satu hal yang membuatnya senantiasa berbangga dan mensyukurinya. Sejak kecil ia begitu getol dengan kegiatan masak-memasak hingga akhirnya berhasil membuka usaha restoran yang akhirnya menjadi jalan nafkahnya. Tak hanya itu saja. Memasak juga menjadi perantara bergaulnya dengan para ulama, intelektual, pejabat, budayawan, dsb. Tak segan-segan ia menyediakan diri menjadi juru masak apabila di antara rekan-rekannya sedang merencanakan suatu pertemuan.

“Biar nanti saya yang memasak,” demikian dia mengajukan diri. Banyak diantara rekan-rekannya begitu menaruh hormat dan simpatik akan sikapnya yang gagah dan tidak merasa rendah diri.

Ya. Ia demikian ridho mengerjakan bidang yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan atas itu, ia beroleh kemudahan dan kemajuan dalam hidupnya. Sudah barang tentu memasak bukanlah hal yang tabu dan sudah sepantasnya apabila ia ridho dalam mengerjakannya.

Bidang-bidang lain yang secara sosial-budaya kurang mendapatkan prestise, memiliki peluang dan keluhuran yang serupa. Jika rasulullah saja menjahit bajunya sendiri, betapa kita ini telah bersikap muluk dan terlalu tegang membuat dikotomi keren atau tidak keren suatu bidang. Pada ujungnya, nilai yang menentukan wibawa suatu hal salah satunya adalah dengan mengukur sejauh mana seseorang telah ridho dalam mengerjakannya.

Ridho secara harafiah artinya senang atau rela.[1] Seseorang yang ridho terhadap apa yang dikerjakan tentu akan meringankan nilai beban dari pekerjaannya itu. Secara otomatis, stamina dan mutu kerjanya pun akan berlipat ganda karenanya. Sebaliknya, mereka yang tidak ridho dalam mengerjakan suatu perkara umumnya merasa berat menanggung beban pekerjaannya. Akibatnya bisa berbagai-bagai: terjadi kesalahan, bosan, dan buntutnya: mutu kerjanya menjadi buruk.

Dalam Islam, konsep ridho diimplementasikan pada koridor menjalankan hal-ihwal yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui firman dalam Alquran dan sunnah rasul dalam Alhadist. Dengan kata lain, kita bisa menerapkan konsep tersebut dalam upaya memotifasi aktifitas ibadah kita. Tentu hal ini tidak melulu pada nilai ibadah yang sifatnya ritual saja—sebagaimana sholat, puasa, bersedekah, berqurban, atau haji— melainkan juga ibadah yang tersemat dalam aktifitas keseharian kita dalam menunaikan kewajiban masing-masing—baik itu sebagai kepala keluarga, istri, suami, anak, anggota masyarakat, pejabat, pegawai, murid, guru dan lain-lain.

“Semoga Allah meridhoi”, demikian kita sering mendengar ungkapan seseorang yang akan, sedang atau telah mengerjakan suatu perkara. Ini merupakan ungkapan manusiawi yang fitrahnya memang memiliki keterbatasan dalam memahami dan memilih suatu hal baik yang dikerjakan. Akan nilai baik atau tidak itu sendiri bersifat sangat luas bergantung dari berbagai cara pandang tiap-tiap manusia dan budayanya.

Bagi para muslimin, nilai baik tersebut selalu merujuk kepada apa-apa yang diperintahkan Allah, sementara nilai yang buruk adalah hal-hal yang Allah melarangnya. Mengimani nilai baik dan buruk semacam itu merupakan hal fundamental yang bisa membuat pribadi seorang muslimin teguh dan kokoh. Betapa kita semua tahu bahwa dewasa ini terlampau banyaknya alternatif nilai yang antri dalam kehidupan kita, di mana batas-batasnya sering rancu oleh karena kontekstualitas zaman dan perubahan yang terus-menerus menghiasi peradaban manusia. Di tengah itu semua, banyak hal baik yang bisa kita petik, namun tak jarang terjadi kekacauan skala prioritas—di mana hal yang tidak perlu bisa menjadi tidak perlu, dan yang tidak perlu sering kita utamakan karena berbagai dorongan dan alasan yang serabutan.

Karena selalu berjibaku dalam chaos nilai yang muncul dari kebudayaan yang demikian, maka kita bermohon: Semoga Allah meridhoi! Supaya kita tidak terlalu jauh membelok pada nilai baik dan buruk yang sudah ditetapkan Allah SWT. Untuk itu, kitapun harus ridho dengan perkara-perkara baik yang tengah kita kerjakan, betapapun juga, secara aqali kadang bernilai berat, tidak mungkin, bahkan mengandung deadlock. Jika memang itu hal yang dianjurkan Allah, apalah yang sulit bagi Tuhan semesta alam?

Memang, yang demikian itu kembali kepada iman masing-masing kita. Iman merupakan hal yang spesifik dan intim yang menjadi pilar pribadi manusia. Kesulitan dan kemudahan dalam pandangan kita akan berbeda dengan kesulitan dan kemudahan dalam pandangan orang lain. Dan pasti berbeda pula dengan pandangan Allah yang nilai manusiawi kita hanya mampu menduga-raba.

Dalam skala yang lebih luas, sikap ridho juga bisa diimplementasikan dalam menerima atau menghadapi apa yang telah ditetapkan Allah sebagai takdir kita. Betapapun juga manusia memiliki otoritas dalam mengelola dan memperjuangkan hidupnya dengan masing-masing caranya, namun akan hasil, kenyataannya berbeda satu dan yang lainnya. Ada yang sehat-ada yang sakit, ada yang miskin-ada yang kaya, ada yang pandai-ada yang tidak pandai, ada yang bersekolah ada yang tidak, dan semacamnya.

Dalam QS. At-Taubah:59 Allah berfirman:

”Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

Semoga Allah meridhoi apa-apa yang kita kerjakan, dan sebaliknya semoga kita pun ridho dengan apa-apa yang menjadi ketetapan Allah. Amin.

 

Related Posts

About The Author

Add Comment