Rendra: Shalat pertama saya

W.S Rendra adalah sastrawan yang dihormati baik di Indonesia maupun di luar negeri. Lahir pada tanggal 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Wafat tahun 2009, jenazahnya disemayamkan di Cipayung Depok.

Sebagaimana kedua orangtuanya yang beragama Katolik, mula-mula Rendra pun beragama Katolik dengan nama lengkap Willibrordus Surendra Bawana Rendra. Tahun 1970 dia tercatat beragama Islam dan namanya disederhanakan menjadi Rendra saja.

Berikut ini kami sampaikan penuturan Rendra yang mengisahkan fragmen pengalamannya saat awal masuk Islam. Kami salin dari buku Menonton Bengkel Teater Rendra, Burungmerakpress 2013, dengan data sumber Majalah Ummat, No. 01, 1994, berjudul asli Syaraful ‘Anam, sbb:


KETIKA itu Syu’bah Asa tinggal serumah dengan saya. Saya sering meledeknya: ”Mana itu seniman Islam? Islam ‘kan tak punya Beethoven, tak punya Mozart, Picasso?”. Syu’bah lebih sering diam saja. Kadang saya malah penasaran. Gambaran tentang orang Islam dalam benak saya memang buruk sekali: mereka tak ramah, tak cukup kreatif, dan sebagainya.

Ketertarikan saya pada Islam bermula pada syair-syair Syaraful ‘Anam dan Al-Barzanji yang diterjemahkan Syu’bah. Syair-syair ini adalah kasidah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad. Di situ, Nabi Muhammad digambarkan menambal gamisnya sendiri; jika berjalan dengan sahabat-sahabatnya beliau berjalan paling belakang; beliau juga amat menyukai anak-anak. Dan, jika tangan seorang sahabat berbau wangi, orang akan berkata, “Tangan ini pasti baru disentuh Nabi.” Bukankah ini berarti Nabi suka bergaul? Saya amat terharu membaca syair-syair itu, dan saya berpikir, “Boleh, kan, bila saya ikut terharu? Dan ikut numpang kagum pada Muhammad?”

Rendra membacakan syair-syairnyaSaya memutuskan, Bengkel Teater akan mementaskan Barzanji. Kemudian saya pergi ke masjid-masjid, tiduran di masjid. Saya perhatikan orang-orang yang shalat, dan seorang teman menjelaskan artinya. Jadi saya mendapatkan obyek pengamatan yang menarik. Inilah yang kemudian saya ekspresikan dalam teater, yang dipentaskan di Teater Terbuka Pusat Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 1970.

Tetapi, bahkan ketika itu saya masih belum tertarik untuk masuk Islam: saya takut jika daya cipta saya lalu mati! Gambaran buruk bahwa orang-orang Islam itu tidak ramah memang terbukti. Pementasan Kasidah Barzanji itu sukses. Tapi, seusai pementasan, seorang anggota keamanan memanggil saya dan menunjukkan tumpukan batu-bata yang disembunyikan di bawah panggung. “Mas, lihat itu! Batu-batu itu disiapkan untuk melempari Anda, kalau penonton tidak puas,” katanya, “Wah … tak mungkin saya masuk Islam. Tak mungkin,” saya langsung protes dalam hati.

CAHLXowUQAAQmmWSaya bahkan berbicara, syukurlah kita bukan orang Islam. Sepulang dari pementasan itu, saya ceritakan soal batu-batu yang disiapkan untuk melempari saya kepada Syu’bah, dan ledekan saya kembali meluncur.

“Bagaimana orang Islam itu?” Syu’bah menjawab, “Sudahlah. Mas, saya sibuk. Besok ujian.”

Beberapa waktu kemudian saya mengajak Syu’bah, “Yuk, ke pantai, melihat senja.” Syu’bah tak mau, karena dia sedang belajar untuk ujian. Kebetulan ada teman yang datang bawa mobil. Dengan beberapa teman, saya meluncur ke pantai Parangtritis. Menikmati senja.

Beberapa saat setelah menatap laut luas pada senja itu, sekonyong-konyong saya merasakan badan saya diterpa kenikmatan yang luar biasa; kenikmatan badan bersama hembusan angin. Seluruh anggota tubuh terangsang –hingga ke bulu-bulu mata, sampai masuk telinga. Luar biasa! Kenikmatan ini melebihi orgasme. Ini adalah nikmat badan, nikmat syaraf, sampai ke ujung-ujung. Saya seperti terkapar, tanpa tahu persis sebabnya. Ini sesuatu yang gaib.

Kenikmatan ini berlangsung beberapa saat. Dan tiba-tiba, tanpa sepenuhnya saya sadari, tangan kiri telah terlipat di dada; tangan kanan terangkat tegak lurus, telunjuk mengacung ke langit, dan “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarasulullah” terlontar dari mulut saya!

Beberapa saat kemudian saya kebingungan sendiri. “Lho … aku tadi kok … boleh dikatakan aku ini Islam.” Tapi kemudian saya tukas sendiri. “Tidak, bukan ‘boleh dikatakan’, tapi aku ini Islam!” Tidak usah diislam-islamkan, saya Islamkan diri saya sendiri. Lalu intelek saya mengambil alih, “Ha, untuk menjadi Kristen saja saya harus dibaptis, bahkan untuk komuni saja harus melalui pastur. Tapi sekarang saya mengislamkan diri sendiri. Aku, Islam!” Begitu saja.

Saya lalu pulang, dan bilang kepada Syu’bah. “Bah, aku Islam.”

“Ya … ya …” Syu’bah menjawab tak acuh.

“Sekarang ajari aku shalat,”

“Ampun, Mas. Aku lagi mau ujian. Lain kali saja kalau mau bergurau.”

“Lho, kok bergurau? Aku bener-bener, nih.” Tapi dia belum mau percaya.

wartawan Syubah AsaHari berikutnya saya pergi ke Jakarta. Di sepanjang jalan, di kereta api, saya menikmati suasana karena pengalaman luar biasa saya sebelumnya –kendati saya tak tahu proses mendapatkan pengalaman di Parangtritis itu.

Kebetulan, saya sampai di Jakarta hari Jum’at. Ketika itulah saya bertemu Taufiq Ismail. Saya bilang: “Saya ingin shalat Jum’at, nih.”

“Ya. Itu bagus,” katanya.

“Tapi aku belum hapal at-Tahiyatnya. Yang hapal cuma al-Fatihah dan Qulhu (surat Al-Ikhlas, red.) Bagaimana ini?

Akhirnya Taufiq menulis bacaan at-Tahiyat di atas selembar kertas Padalarang – yang saya jadikan sajadah agar sambil shalat saya bisa membaca bacaannya.

Inilah shalat pertama saya.@Baca juga Rendra: Agama Islamlah yang dengan tegas mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa

Catatan: Syu’bah Asa adalah seorang wartawan senior tempo, yang kala itu masih seorang mahasiswa. Ia tinggal di Bengkel Teater, sanggar pimpinan Rendra, bersama anak-anak muda lainnya yang bergiat mempelajari ilmu-ilmu seni dan budaya.


 

Related Posts

About The Author

Add Comment