Pujian dan tepuk tangan: racun yang membahayakan

Alhamdulillah, dewasa ini pengajian kian marak. Dalam itu risalah Islam disampaikan kepada khalayak. Notabene, cara-cara penyampaian untuk itu pun berkembang dalam berbagai gaya dan ragamnya.

Secara umum, yang paling digemari adalah pengajian yang suasananya akrab dan rileks. Meski juga, pengajian yang khusyuk pun tak sedikit pula peminatnya. Keduanya sama-sama baiknya. Orang bisa memilih sesuai dengan kecondongannya.

Memang. Untuk menjadikan suasana menjadi cair, dibutuhkan sedikit humor. Dan supaya bahasan tidak terlalu kaku, adakalanya perlu pula dibumbui dengan retorika-retorika seperlunya, sehingga hal yang disampaikan bisa lebih luwes dan mengena.

Jika ditilik dari ilmu dramaturgi, hal itu syah-syah saja. Sejauh pada takaran dan tidak melenceng dari pokok yang disampaikan. Tetapi keadaan sering berbalik. Ger-geran kadang over takaran. Retorika kerap lebih dikedepankan.

Di sini, keadaan memang menjadi cair dan basah. Orang terhibur dan bertepuk tangan. Orang menjadi takjub serta tunduk mengangguk. Ya, pada sensasi yang dibuat sang pembicara! Bukan pada esensi kemanfaatan yang semula hendak disampaikannya.

Jika sudah demikian, biasanya retorika lantas melantur kemana-mana. Kadang pula mengesankan rumit dan sulit ditebak. Dan dengan cara itulah seseorang mengekspresikan kecanggihan intelektualitasnya. Repotnya, di situ seseorang bisa kepleset lalai mereduksi makna yang semestinya. Dan yang paling pahit: berdusta!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990, At-Tirmizi no. 2315, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7136)

Dalam batasannya, humor tidaklah hal terlarang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَمْزَحُ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا

“Sesungguhnya aku juga bercanda namun aku tidak berkata kecuali yang benar.” (HR. Ath-Thabrani)

Dan yang memprihatinkan adalah, jika dengan kemampuan beretorika itu seseorang lantas terlena hingga memperolok-olok pihak lain yang dianggap tak sepaham dengan dirinya, betapapun juga pihak tersebut berada di jalur agama yang lurus. Ya, betapa pujian dan tepuk tangan selalu menyimpan racun yang membahayakan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. [at-Taubah/9:65-66].

Semoga kita semua terhindar dari kelalaian yang sedemikian. Kehebatan bukanlah standar keilmuan. Tepuk-tangan bukan pula ukuran tercapainya maksud pembicaraan. Terhadap segala hal yang memberi celah pujian kita semua perlu berwaspada, sebab ia seringkali rapi tersembunyi dan tak kita sadari.

Karena segala puji adalah milik Allah semata. Kita belindung kepada-Nya, agar dijauhkan dari hawa nafsu kita serta perbuatan-perbuatan buruk kita. Amin ya Rabb! Wallahu a’alam bishawab.Abu Alif Alfatih

Related Posts

About The Author

Add Comment