Selalu koma

Oleh Abu Alif Alfatih

SAHABAT yang budiman. Kita mungkin rajin mendengar nasihat dari ustadz atau pak kyai. Kita mungkin gemar mengikuti pengajian-pengajian akbar. Kita mungkin bersemangat mengikuti kajian-kajian. Kita mungkin tak melewatkan mata acara ruhani di tivi yang kita cocoki.

Namun begitu, seringkali anak-anak kita berbeda. Mereka mungkin lebih gemar bermain game. Atau fesbukan, atau twitteran, atau nonton konser. Atau malah, mungkin pacaran. Yang terjadi sering seperti itu. Dan kita gregetan. Tanpa sepenuhnya sadar bahwasanya hal itu juga tak lepas dari kompromi kita yang penuh-sesak dengan pemakluman dan kelonggaran.

Ya. Tapi kita gregetan juga. Karena ada dua kecondongan yang gradasinya terlalu kontras. Generasi yang beranjak tua biasanya berkecenderungan menata diri, menata hati. Generasi yang muda penuh gairah berexplorasi: mencoba ini, mencoba itu, kepingin ini, kepingin itu.

Meskipun juga, jika ditinjau dengan seksama, pada keduanya sebenarnya ada unsur yang kurang-lebih sama, hanya berbeda pada modus  dan kadarnya. Mbakyu sepupu saya yang sudah beranak lima ngefans sama kyai idolanya karena lucu. Sementara Om saya adalah orang yang penuh semangat mengorganisir tetangga-tetangga untuk urunan bayar bis, demi mengikuti pengajian akbar di sebuah kota yang seringkali jaraknya lumayan jauh. Di situ asyik, karena ada unsur journey dan keramaian yang mengandung hiburan. Sedang sohib saya getol mengikuti kajian karena atmosfiernya senada dengan selera dan tabiatnya.

Dan sebagainya. Pendek kata, selalu ada unsur lain di luar keilmuan yang menyebabkan para pencari ilmu mendengar atau mendatanginya. Tentu, tak ada salahnya. Karena semua yang sakleg akan menjengkelkan siapa saja. Dakwah-dakwah yang keliwat lempeng akan hambar dan kurang mengundang selera.

Tapi menjadi masalah manakala hal yang sekunder itu kemudian menjadi skala prioritas yang utama. Sementara kita bersama telah tahu, urgensi mencari ilmu merupakan upaya membukakan diri selebar-lebarnya terhadap kemungkinan-kemungkinan baik, supaya ada peningkatan yang signifikan. Karena itu diperlukan adab, disiplin, ketekunan dan kesabaran. Dan di titik ini bisa terjadi hal yang sebaliknya, yang justru selera dan tabiat tidak terakomodir sebagaimana harapan kita.

Dan sering terjadi, terhadap proses pembelajaran yang tak merestui hobi dan selera, kita bersikap resistant. Bersikap menolak karena mungkin saja tak sesuai dengan kenyamanan posisi sosial yang selama ini kita miliki. Atau karena tak mensupport eksistensi yang sedang kita bangun-kukuhi. Atau tak sesuai dengat adat kebiasaan yang terlanjur kita junjung tinggi. Pendeknya, tak sesuai dengan ekspektasi akan suatu hal yang ingin kita kekalkan.

Sementara, dalam konteks keilmuan, betapa kita ini senantiasa menemui ujung yang selalu koma. Tak ada pencapaian yang sungguh-sungguh titik. Hari ini boleh jadi kita mendapati suatu pencerahan yang kita anggap bernilai benar, tetapi seminggu kemudian itu tak menjadi jaminan. Karena, semakin bertambah wawasan dan pengetahuan, semakin nampak segala cacat dan cela dengan jelasnya.

Dalam menuntut ilmu keterbukaan menjadi pilar utama yang perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kita mesti bersiap diri mendapati hal-hal pahit yang berseberangan dengan selera dan tabiat kita. Jika memang itu selera dan tabiat yang buruk, tentu harus kita relakan dengan tanpa tawar-menawar demi meningkatnya maqam kebaikan diri kita sendiri. Tak perlu berapologi. Kudu tabah. Tak perlu gentar dengan risiko. Maka, terhadap nilai positinya, sudah patut kalau kita berbaik sangka dan menyabarinya. Sami’na wa atho’na. Bersiap sedia, membongkar kebiasaan lama.

Selebihnya, disiplin dan kesungguhan bagaimanapun juga dibutuhkan sebagai piranti pembelajaran. Supaya terbit kesadaran membangun skala prioritas, membedakan mana yang perlu dan mana yang tak perlu. Supaya kita tahu, bahwa hiburan pada dasarnya hanyalah bumbu. Butuh proporsi yang benar-benar seperlunya untuk mengkomposisikan pedas, asin, manis dan gurihnya. Dan bukan banjir fanatik dengan selera udik primordial kita belaka.

Pada fitrahnya setiap manusia itu luwes dan kaya dengan keterbukaan-keterbukaan. Hanya saja, pada faktanya, kita ini terlalu banyak dikerubuti hal-ihwal yang mengesan santun dan menghibur, yang kian santer meninabobokan jiwa kita terjerembab aleman. Diam-diam, kita pun terjangkit kuatir menjadi minor. Dan tanpa sadar kita membuat kanal-kanal katarsis dengan mendamba pengakuan dan pujian, karena mengira itu memuaskan dan membahagiakan. Sementara kita sama tahu, yang mengekalkan ini sama saja nilainya dengan membangun jeruji bagi kekerdilan jiwanya sendiri.

Semoga dengan bekal keterbukaan dan kesungguhan yang dengan terbata-bata kita mengupayakannya, Allah berkenan memberikan bimbinganNya. Meluaskan kesumpekan hati kita dari telikung fatamorgana dunia yang fana. Menguraikan simpul-simpul ruwet problematika yang kian hari kian menggemukkan was-was kita.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari & Muslim rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda:Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.

Tentu saja kita mesti menyambut bahagia kabar baik itu dengan segenap kerendahatian, memupuknya dengan ikhtiar yang pantas, serta tak bosan dan tak putus mengartikulasikan kehambaan kita dengan permohonan doa. Wallahu a’lam bish-Shawab. Ini hanyalah rabaan yang serba dalam keterbatasan. Allahlah yang memahami makna yang hakiki.  @ Yogya, 8 Mei 2015

 

Related Posts

About The Author

Add Comment