Pelajaran Nabi shallahu ‘alaihi wasalam bagi yang ingin memulai usaha mandiri

Sahabat muslim yang budiman. Adakalanya seseorang merasa dihadapkan pada kondisi yang serba deadlock: sulitnya mencari pekerjaan, minimnya penghasilan, atau tidak adanya modal untuk merintis suatu usaha yang mandiri. Nabi shallahu ‘alaihi wasalam mengajarkan, betapapun seorang muslim berada pada titik yang kritis demikian, hendaknya ia tetap berdaya dan menjaga kehormatannya, dengan menghindari perilaku meminta-minta.

عن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ﴿ أَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلأََنْصَارِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ فَقَالَ أَمَا فِي بَيْتِكَ شَيْءٌ قَالَ بَلَى حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ وَقَعْبٌ نَشْرَبُ فِيهِ مِنَ الْمَاءِ قَالَ ائْتِنِي بِهِمَا قَالَ فَأَتَاهُ بِهِمَا فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ قَالَ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ وَأَعْطَاهُمَا اْلأَنْصَارِيَّ وَقَالَ اشْتَرِ بِأَحَدِهِمَا طَعَامًا فَانْبِذْهُ إِلَى أَهْلِكَ وَاشْتَرِ بِالآخَرِ قَدُومًا فَأْتِنِي بِهِ فَأَتَاهُ بِهِ فَشَدَّ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُوْدًا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ لَهُ اذْهَبْ فَاحْتَطِبْ وَبِعْ وَلاَ أَرَيَنَّكَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا فَذَهَبَ الرَّجُلُ يَحْتَطِبُ وَيَبِيْعُ فَجَاءَ وَقَدْ أَصَابَ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ فَاشْتَرَى بِبَعْضِهَا ثَوْبًا وَبِبَعْضِهَا طَعَامًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَصْلُحُ إِلاَّ لِثَلاَثَةٍ لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ

Dari Anas bin Malik ra bahwa ada seorang lelaki Anshar datang menemui Nabi shallahu ‘alaihi wasalam dan dia meminta sesuatu kepada Nabi shallahu ‘alaihi wasalam. Nabi pun bertanya kepadanya,”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?”

Lelaki itu menjawab,”Ada. Dua potong kain, yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk, serta cangkir untuk minum air.”

Nabi shallahu ‘alaihi wasalam berkata,”Kalau begitu, bawalah kedua barang itu kepadaku.” Lelaki itu datang membawanya. Nabi pun bertanya, ”Siapa yang mau membeli barang ini?”

Salah seorang sahabat beliau menjawab,”Saya mau membelinya dengan harga satu dirham.” Nabi saw bertanya lagi, ”Ada yang mau membelinya dengan harga lebih?” Nabi saw menawarkannya hingga dua atau tiga kali. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau berkata,”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.”

Maka Nabi shallahu ‘alaihi wasalam memberikan dua barang itu kepadanya dan mengambil uang dua dirham itu serta memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut seraya bersabda,“Belilah makanan seharga satu dirham dengan uang itu, dan berikanlah kepada keluargamu. Dan sisanya belilah sebuah kapak dengan satu dirham, dan bawa kapak itu kepadaku!”

Ia pun melakukan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah memasang gagang pada kapak tersebut dengan tangannya kemudian bersabda, “Pergilah dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Jangan kembali kepadaku setelah lima belas hari.”

Lelaki Anshar itu pun melaksanakan perintah nabi kemudian datang lagi dengan membawa sepuluh dirham. Sebagian hasilnya ia belikan baju dan sebagian lagi ia belikan makanan.

Rasulullah bersabda kepadanya, “Usaha itu lebih baik bagimu daripada engkau datang dengan noda hitam di wajahmu pada hari Kiamat disebabkan meminta-minta. Meminta-minta hanya boleh bagi tiga macam orang (yaitu): orang yang sangat fakir, orang yang terkena denda yang sangat berat, atau orang yang dibebani diyat (tebusan) yang menyulitkan.” (Takhrij Imam Ibnu Hajar al-Asqalani r.hu, Kitâb Targhib wa Tarhib, hadits nomor 240).

——————–

Dari riwayat di atas, kita bisa memetik pelajaran, bahwa salah satu solusi yang diajarkan Nabi shallahu ‘alaihi wasalam untuk memperbaiki taraf hidup yaitu dengan membuka usaha yang produktif. Dan untuk mendukung itu, yang dibutuhkan adalah alat produksi.

Pada kasus yang umum, biasanya modal menjadi kendalanya. Pada hadits ini kita bisa belajar, bahwa seseorang yang terbentur permasalahan modal untuk memulai suatu usaha, bisa mengatasinya dengan jalan menjual barang apapun yang dimiliki, dan menukarnya dengan alat produksi.

Langkah ini menjadi prioritas yang bisa lebih dulu ditempuh sebagai tindakan preventif untuk menghindari alasan-alasan panjang yang bisa memperdaya seseorang ingin dibelaskasihani, atau mengulur-ngulur waktu, apalagi sampai terjerumus meminta-minta. Dan notabene, sebagaimana kita ketahui bersama, dewasa ini pun tidak gampang memperoleh suatu pinjaman yang bersih dari unsur riba.

Demikianlah pelajaran berharga sebagaimana diajarkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wasalam. Untuk memulai, risiko dan kendala tentu akan selalu ada. Yang demikian itu sudah pada lazimnya. Insyaallah, jika seseorang memang memiliki kemauan, kesabaran dan ketekunan dalam melakukannya, semua itu bisa terlewati dan teratasi.

Menegakkan nafkah keluarga adalah mulia. Menjaga nafkah tersebut dari unsur-unsur yang terlarang merupakan jalan ibadah bagi seseorang yang memiliki sikap tunduk kepada Rabbnya. Karenanya, jenis usaha apapun yang kita rintis, yang menjadi pilar utama adalah nilai halalnya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa memberikan kelapangan rizki dari segala jenis usaha yang kita jalankan, mendekatkan kita kepada segala yang halal, serta melindungi kita semua dari kefakiran dan kekufuran. Wallahu a’alam bishawab. (Abu Alif Alfatih)

Related Posts

About The Author

Add Comment