Pak Dirman, saat masih kecil dipercaya untuk mengumandangkan adzan dan iqamat di langgar

Djangan bimbang menghadapi matjam-matjam penderitaan, karena makin dekat tjita-tjita kita tertjapai, makin berat penderitaan jang haroes kita alami –Jenderal Soedirman

Itulah kutipan kata-kata Pak Dirman. Seorang panglima besar yang dikenal dengan pola hidupnya yang sederhana. Kata-katanya mencerminkan sikap sederhananya itu. Penampilan beliau pun ala kadarnya. Seragam yang beliau kenakan tak lebih-kurang sebagaimana yang dikenakan oleh prajurit lainnya. Malahan, nampak terlalu bersahaja, karena terlihat kegedean membungkus badannya yang kurus.

Meskipun Indonesia telah merdeka, beliau bahkan dikabarkan tak memiliki seragam yang bagus. Kita bisa menemukan fakta yang mengharukan tersebut dalam sebuah dokumen dari buku berstempel Hendra Wardhana, surat Presiden Sukarno yang dikirimkan untuk Pak Dirman, sebagai berikut:

SONY DSC

Saudaraku, Hari Nasional 17 Agustus sudah mendekat. Saja kira saudara ta’ mempunjai uniform jang bagus. Maka bersama ini saya kirim bahan untuk uniform baru. Haraplah terima sebagai tanda persaudaraan. Merdeka! Soekarno —

Saat masih kanak-kanank, bersama adiknya beliau belajar Islam di bawah bimbingan Kyai Qahar. Soedirman adalah anak yang taat agama dan selalu shalat tepat waktu. Ia dipercaya untuk mengumandangkan adzan dan iqamat di langgar tempatnya mengaji. Ketika sudah menjadi Jenderal oleh sebagian anak buahnya Pak Dirman kadang dipanggil pak Kaji, yaitu lafal haji dalam logat Jawa, karena Pak Dirman selalu menanamkan nilai-nilai Islam kepada pasukannya, meskipun sebenarnya beliau belum menunaikan ibadah haji.

Sebagai panglima, beliau berjuang pantang menyerah memimpin tentara Republik dengan tuberkolusis yang menggerogoti paru-parunya. Tak hanya jiwa dan raga, beliau pun tak segan-segan mengurbankan harta yang  dimiliki untuk perjuangan tentara Republik. Bahkan terkabar beliau sampai menjual perhiasan milik isterinya. Dalam berbagai kesempatan, saat berorasi di hadapan para prajurit beliau sering mengutip ayat Quran yang mulia:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (Ash Shaf: 10-11)

Pemakaman Pak Dirman, 29 Januari 1950, hanya 1 bulan berselang setelah Pengakuan Kedaulatan RIBeberapa bulan setelah tentara Belanda hengkang dari bumi Indonesia, tepatnya 29 Januari 1950, Pak Dirman dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Surat kabar harian Yogyakarta, Kedaulatan Rakjat, menulis bahwa Indonesia telah kehilangan seorang pahlawan yang jujur dan pemberani.

Ya. Beliau wafat tidak meninggalkan harta-benda, melainkan meninggalkan jejak tauladan kesederhanaan dan ketulusan pengurbanan. Pak Dirman, sang panglima besar itu, bukan semata besar di atas gemilang jabatannya, namun beliau besar lantaran kesalehan kepribadiannya. @ Baca artikel inspiratif selanjutnya Kisah mengharukan Bung Hatta atau Agus Salim, seorang menteri yang hidupnya…

 

Related Posts

About The Author

Add Comment