Menjelajah Oase Siwa dan Matrouh

Oleh Wahid Satunggal Abdul

MALAM itu angin kota Alexanderia terasa sangat dingin. Sepanjang pesisir Mediterania terlihat begitu lengang. Sekitar pukul satu malam, saya bersama rombongan hendak bertolak menuju Siwa, sebuah kota kecil yang berada di dekat kawasan perbatasan Mesir-Libya.

Kota yang terpencil namun tak pernah surut pengunjung ini berjarak 560 km dari Kairo. Nantinya kami juga akan melewati Matrouh, kota yang memiliki banyak objek wisata, salah satunya, Hamam Cleopatra. Kota ini juga menjadi tujuan perjalanan kami. Guna mempermudah perjalanan maka rute yang kami ambil ialah Alexanderia- Siwa-Matrouh.

Bus pelan-pelan meninggalkan kota romantis di era Hellenistic, berjalan menjauh meninggalkan pesisir pantai. Terlihat dari kejauhan perpustakaan Bibilotheica yang tetap memancarkan pesona di antara temaram lampu jalan. Di tengah malam, perjalanan terasa lebih nikmat, disamping tidak terjebak macet juga suasana hening yang bebas dinikmati dari balik jendela. Bus seolah terbang menebas sunyi malam. Di balik jendela kaca, hanya gelap yang sesekali ditemani kabut. Alexanderia, kota yang pernah jadi ibu kota selama 3000 ribu tahun itu, menjadi awal perjalanan kami berpetualang ke kota tua Siwa dan Matrouh.

Tidak banyak yang kami lakukan di dalam bus. Hanya beberapa kali membaca doa dan selawat, setelah itu peserta yang berjumlah 40 dibiarkan terlelap dalam hangatnya mimpi.

Menuju Siwa, Memburu Oase

Bus tiba di kota Siwa siang sekitar pukul sembilan. Memasuki kota Siwa bagai memasuki kota pedalaman di era zaman kuno. Pusat kota Siwa jika dibandingkan di Kairo adalah gang-gang kumuh yang tak enak dipandang mata. Tapi jangan disangka, Siwa tentu berbeda jauh dengan Kairo. Meskipun di sana-sini penuh dengan kotoran, serta bangunan yang sangat sederhana, tapi penduduk di kota tua ini sangat ramah. Sebagaimana suku-suku pedalaman yang ada, di Siwa pun adat-istiadat masih sangat kental. Aroma modernitas sama sekali belum tercium. Banyak hal unik di kota tua ini. Salah satunya ialah taksi yang menjadi kendaraan umum ialah motor dengan tiga roda dan bak di belakangnya. Biasanya kalau di Kairo, bak itu untuk mengangkut sayuran, namun di Siwa, bak itu disediakan untuk penumpang.

Jalanan di kota itu masih beralaskan tanah. Sedikit sekali yang menggunakan aspal. Kota yang panjangnya sekitar 80 km dan luasnya hanya 20 km dihuni sebanyak 23.000 manusia. Kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Barbar yang dalam kesehariannya berinteraksi menggunakan bahasa suku mereka sendiri atau biasa populer dengan bahas Siwi. Tentu bahasa ini berbeda dengan bahasa Arab, fusha ataupun amiyah. Meski demikian, banyak juga penduduk Siwa yang pandai bercakap bahasa arab amiyah. Sebuah kota kuno yang tak lekang dimakan waktu. Terletak di provinsi Matrouh, di petunjuk arah Barat Laut Mesir, sampai saat ini masih terus ramai dikunjungi para pelancong. Terutama mereka yang ingin menikmati lautan padang pasir ( Sand Sea) yang mengelilingi kota Siwa itu.

Sepanjang perjalanan menuju hotel, mata terus digoda oleh pemandangan sekitar. Yang paling menarik perhatian adalah bukit batu yang berdiri tidak jauh dari pusat kota. Sesampainya di hotel, guna mempersingkat waktu, saya bersama rombongan langsung bersiap-siap menuju destinasi–destinasi yang telah dipersiapkan. Sebelum memburu oase di tengah lautan gurun, alangkah bagusnya, untuk mengunjungi beberapa lokasi terdekat terlebih dahulu. Karena cuaca juga masih kurang pas untuk bercanda ria dengan gurun pasir.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Danau Garam, “The Lake of Salt”. Danau ini sudah ada sejak abad ke 7 M, saat orang-orang Mesir kuno memanfaatkannya untuk keperluan hidup sehari-hari, termasuk membangun rumah dengan sisa-sisa garam yang dibekukan. Danau ini berukuran sekitar 8×40 km. Sungguh indah dipandang mata. Karena posisinya berada di bawah permukaan laut, maka kami bisa melihat daratan di ujung sana. Kedalamannya kira-kira 19 meter. Danau garam ini salah satu penopang ekonomi masyarakat Siwa yang cukup berpengaruh, selain bertanam kurma dan zaitun.

Tidak lama kami berada di Danau Garam, karena kami memang harus membagi waktu dengan lokasi-lokasi lain. Persinggahan hanya sekitar 15 menit, lalu kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Ternyata, hanya butuh beberapa menit untuk sampai di destinasi selanjutnya, yakni kaki gunung Dakrur, sebuah gunung kecil yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga Siwa. menjelajah-2Tempat ini menjadi pusat penyelesaian masalah, tempat untuk saling runding antar kabilah. Sebab dulu di tempat ini pula antar kabilah saling menumpahkan darah, maka beberapa waktu kemudian dibuat pernjanjian damai yang kemudian diperingati setiap bulan oktober tanggal 13, 14, 15. Di tempat bersejarah ini, semua rakyat Siwa berkumpul, setiap pemuka kabilah berdiri di posisi paling atas. Mereka bersama menikmati hidangan tanpa ada perbedaan, miskin, kaya, atau perbedaan lain. Sebagaimana diungkap Ammu Muhammad, salah seorang penunjuk jalan yang juga warga asli Siwa, bahwa Dakrur ini menjadi penyatu warga Siwa.

Untuk hari-hari biasa, tempat ini tidak dihuni orang. Banyak berjejer rumah yang terbuat dari batu bata di sepanjang jalan dalam kondisi kosong. Hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain. Lokasinya yang cukup jauh dari pusat keramaian sehingga jarang sekali orang berlalu lalang di komplek Dakrur ini. Setelah mengambil gambar bersama, kami pun lantas melanjutkan perjalanan ke Uyun (mata air) Celopatra. Tanpa basa-basi lagi, setibanya bus di depan Uyun, saya dan beberapa peserta lain yang bisa berenang langsung menganti kostum dan menceburkan diri di air mata tersebut. Airnya bening dan tidak asin, tapi karena kurang dirawat, banyak sekali lumut-lumut yang merubah aroma menjadi anyir. Mata air Cleopatra yang penuh sejarah ini selalu ramai oleh anak-anak yang bermandian. Mereka menyambut kami dengan ramah dan sesekali mengajak bercanda saat kami mulai berenang.

Setelah selesai berenang, selanjutnya kami akan mengunjungi Ma’bad (Kuil) Raja Amon, salah seorang raja yang dipercaya hidup di zaman Pharaonic (Mesir kuno) yang konon makamnya telah dikunjungi Alexander The Great di tengah masa kampanye penaklukan Persia di sekitar tahun 330-an SM. Kuil ini berukuran tidak begitu besar, tapi nuansa dindingnya terlihat begitu kusam, ini menunjukan betapa tuanya bangunan ini. Lagi-lagi di kuil ini pun kami tidak bisa berlama-lama, karena sinar matahari yang cukup terik menyengat. Terlihat di sekitar kawasan kuil, beberapa personel militer sedang berjaga-jaga.

Turun dari kuil Raja Amon, ammu Muhammad memberi kejutan. Awalnya Off Road ke tengah lautan padang pasir diagendakan besok hari karena tidak mendapat izin dari pihak keamanan militer. Namun, saat baru turun dari bukit kuil Amon, 2 buah mobil Jip sudah siap membawa kita pergi mengarungi padang pasir. Kemudian disusul dengan kedatangan 4 Jip lainnya. Kami pun segera pindah bus dan bersiap-siap menikmati sensasi mendebarkan di tengah gurun pasir.

menjelajah3

Pertama kali memasuki kawasan gurun, para sopir masih mengendarai Jipnya dengan normal. Namun, ketika mulai menghadapi dataran tinggi, para sopir memainkan mobilnya yang membuat jantung seperti mau copot. Naik turun dengan sensasi padang pasir yang menakjubkan. Hampir saja perut ini mual-mual, namun karena kami berteriak-teriak, rasa pusing dan mual pun perlahan-lahan menghilang. The Sand of Sea yang terkenal dengan kelembutan pasir putihnya memang benar-benar membuat mata ini betah memandang. Indahnya hamparan gurun yang lembut tidak tandus seperti di perjalanan, menjadikan panorama oase ini kian mendebarkan.Setelah menikmati sensasi permainan sopir Jip mengarungi gurung, kami sampai di oase kecil yang tidak begitu populer. Karena sangat kotor dan tidak indah dipandang mata. Namun oase ini meski kecil dan kotor memberi sensasi lain karena airnya yang hangat. Air ini bercampur belerang yang bisa dijadikan obat untuk berbagai penyakit kulit. Para pelancong pun berhenti di oase ini, sejenak mencelupkan kaki ke genangan air tersebut, hingga perjalanan kembali dilanjutkan. Atraksi-atraksi selanjutnya tak kalah menegangkan. Mobil yang kami tumpangi seperti mau terjungkir balik, baik saat naik ataupun turun. Ini disebabkan karena tanjakan yang sangat vertikal, bahkan hampir tegak lurus. Betapa serunya aksi-aksi yang dilakukan para sopir “gila” itu. Para sopir yang bukan sembarang sopir, mereka terlihat sudah sangat terlatih dan semuanya merupakan warga asli Siwa. Salah satu pemasukan yang cukup besar bagi mereka yang merupakan penduduk asli Siwa.

Setelah perjalanan cukup melelahkan. Akhirnya kami sampai di Oase Siwa yang menjadi tujuan para pelancong. Oase ini dikelilingi rumput-rumput ilalang yang tumbuh karena efek air tersebut. Airnya jernih dan sangat dingin. Benar-benar menjadi tempat peristirahatan bagi pejalan jauh zaman dahulu. Karena pemandangan yang indah dan kebersihan airnya. Sebetulnya sangat cocok untuk mandi sore, namun karena angin gurun cukup dingin, maka saya hanya mencuci muka dan bersantai-santai di tepiannya. Oase ini berada di sekitar 50 km dari arah barat dan timur. Oase ini menjadi kunjungan para pelancong yang paling digemari sejak zaman dahulu. Maklum, di tengah gurun pasir yang amat luas, terdapat sebuah genangan air yang jernih dan cukup besar, hingga sudah sepantasnya setiap rasa ingin mencicipi air ini. Di tepi oase ini orang-orang mengambil gambar dan bermanja-manja denga mata hari yang kian condong ke ufuk barat. Pengalaman yang menakjubkan. Oase Siwa adalah oase paling indah dari semua oase yang ada di Mesir. Keindahannya membuat kami seolah sedang hidup dalam kisah Alfu laila wa laila (Seribu satu malam).

Setelah selesai menikmati hidangan dari Siwa Oasis, saatnya berfantasi ria dengan lembutnya gurun pasir. Sand Skatting dengan papan selancar yang dibawa oleh para sopir langsung disambut dengan gembira oleh para peserta. Mereka ada yang turun sambil berbaring, sambil jongkok dan ada pula yang setengah berdiri. Saya pun penasaran dan pengin berselancar ria. Langsung saja ambil papan dan turun dengan posisi setengah berdiri. Sensasinya menakjubkan, meski di tengah perjalanan terhenti. Awalnya memang ragu, takut karena baru pertama kali. Tapi setelah papan mulai berselancar, justru sensasi seru yang didapat. Namun, hal paling menyebalkan dari permainan Sand Skatting ini adalah naik ke atas permukaan yang cukup membuat betis seperti mau patah saja.

Setelah bermain ria dengan pasir putih nan lembut, kami langsung bersiap berpose ria. Momen ini juga tidak boleh terlewatkan. Karena untuk sampai di tengah gurun pasir tidaklah mudah dan tidak bisa dilakukan setiap hari, maka momen berharga ini harus diabadikan dengan kamera. Matahari beberapa saat lagi akan tenggelam. Pengambilan poto dengan atraksi loncat saat senja paling banyak diminati. Karena objek kamera memotret matahari tenggelam di tengah gurun memang sangat mempesona. Keindahan ini sulit diungkapan oleh kata-kata. Ciptaan Tuhan yang satu ini memang menggiurkan mata. Seandainya bisa menginap barang satu atau dua hari, mungkin pengalaman ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Sementara para sopir Jip sedang asik menikmati teh panas dan cemilan yang mereka bawa. Ternyata, hidup di tengah gurun tidak begitu sulit, para sopir itu dengan tangkasnya memasak air, membuat makanan dan lain sebagainya. Di area gurun yang cukup tandus, tumbuh pepohonan kecil yang kayunya mudah sekali kering. Diambilah kayu-kayu itu, lalu menggali pasir dan meletakkan ranting kayu di dalamnya. Mereka membuat api unggun kecil. Sungguh panorama dan pengalaman yang membuat otak berfikir reflektif. Tetapi, kejadian semacam itu sudah biasa bagi para sopir itu atau bagi masyarakat Siwa secara umum.

Matahari telah tenggelam. Senja di gurun Sahara meninggalkan bekas-bekas dalam pikiran. Suasana mulai redup. Perlahan-lahan Jip meninggalkan gurun, kembali ke pusat kota. Sementara pikiran masih terbayang-bayang dengan hamparan luas yang sepertinya tak bertepi.

Menjelajah Matrouh

Sebetulnya Siwa merupakan bagian dari Provinsi Matrouh. Namun, letaknya cukup jauh dari pusat ibu kota, yaitu Mersa Matrouh yang berjarak sekitar 305 km. Matrouh adalah salah satu provinsi dari 27 provinsi di Mesir yang paling banyak dikunjungi. Karena objek wisata yang terdapat di dalamnya sangat banyak. Pada masa Hellenistic, saat Alexander The Great hendak berkunjung ke kuil Amon di Siwa, ia menemukan kota persinggahan yang indah dan dibangunlah kota di atasnya dengan nama Paratonium. Kota inilah yang kelak (baca-sekarang) berubah nama menjadi Matrouh. Matrouh berada di barat daya (barat utara) Mesir, dekat dengan perbatasan Libya. Kota ini pernah menjadi perebutan berbagai penguasa sampai akhirnya jatuh ke tangan Mesir. Dan berakhirnya perebutan itu terjadi di tahun 1936. Kota ini banyak mengalami renovasi untuk memancing para pelancong dari berbagai penjuru dunia. Matrouh juga termasuk kawasan yang aman dari berbagai tindak kriminal. Karena potensi situs sejarah yang menarik minat pengunjung, maka pemerintah menjadikannya kota yang bersih dan nyaman.

menjelajah-4Jarak yang cukup jauh antara Siwa dan Matrouh membuat kami terlelap dalam perjalanan. Karena ini termasuk bagian dari jalan pulang, maka kami tidak punya banyak waktu. Sepanjang perjalanan, hanya padang pasir tandus yang menemani dari balik jendela kaca. Jalan trans ini memang dilalui bukan untuk kendaraan umum seperti angkot dan taksi, tapi memang disediakan hanya untuk keperluan wisata dan pengangkutan barang-barang. Jadi wajar sepanjang jalan sepi, tak ada satu pun bangunan berdiri. Hanya papan nama sebagai penunjuk jarak tempuh. Beberapa pos polisi yang sempat kami singgahi, itu pun jaraknya sangat berjauhan.

Setelah menempuh perjalana sekitar 5 jam, akhirnya kami sampai di Ajiba Beach. Sebuah pantai yang konon memiliki 7 warna, walaupun tak satu pun dari kami yang menemukannya. Hanya ada tiga warna yang sempat tertangkap mata, yakni biru muda, biru tua dan putih. Memang pantai ini sangat menakjubkan sesuai dengan namanya diambil dari bahasa arab “Ajiba” yang berarti ajib atau menakjubkan. Saya dan beberapa peserta turun ke tepi pantai karena memang pesisirnya di bawah permukaan. Jadi, kita bisa menikmati pantai dari dataran tinggi. Ada pula yang hanya menikmatinya dari atas dan tidak ikut turun bersama kami. Karena masih musim dingin, jadi sepanjang pesisir tampak sepi, tak ada tenda-tenda yang biasanya berjejer penuh sepanjang pesisir pantai. Di samping airnya yang sangat dingin, ombak juga sedang pasang, jadi tak ada seorang pun yang berani mandi. Ada 3 personel militer yang berjaga di tepi pantai, mereka melarang berenang karena alasan keamanan. Lagi pula musim dingin tidak nyaman buat berenang. Saya dan teman-teman yang ikut turun ke pesisir tidak menyia-nyiakan kesempatan emas mengabadikan moment, segera langsung ambil gambar dan menikmati sejenak hempasan ombak dari bibir pantai Ajiba. Sungguh laut yang sejuk dipandang mata, mampu menjernihkan jiwa yang sedang gundah gulana. Betapa indahnya ciptaan Tuhan.
menjelajah-5Hari sudah mulai petang. Di Ajiba Beach kita sempatkan shalat ashar. Lokasi selanjutnya adalah Hamam Cleopatra, letaknya tidak begitu jauh dari pantai Ajiba. Hanya butuh sekitar 30 menit untuk sampai di pesisir Hamam Cleopatra. Setibanya di sana, di hadapan Patung ratu Clopatra kami mengambil gambar seperti biasa, lalu segera berjalan menuju Hamam itu. Ratu Celopatra yang namanya diabadikan di mana-mana adalah penguasa Mesir yang sangat fenomenal. Salah satunya karena kecantikan Sang Ratu yang mampu menarik perhatian dua jendral Romawi sekaligus, Mark Antony dan Julia Ceaser. Keduanya tunduk di hadapan kecantikan Sang Ratu.

Cleopatra hidup di era dinasti Ptolemy, dinasti yang berkuasa sampai tiga abad lamanya. Atas perintah Alexander The Great yang memilih Jendral bernama Ptolemy inilah kemudian dinasti tersebut berkuasa di Mesir. Cleopatra memerintah Mesir hanya selama 21 tahun, dan meninggal di usia 39 tahun. Saat berjalan mendekati Hamam Cleopatra yang mulai mengikis karena hempasan ombak, pikiran melayang ke sebuah masa di mana ratu cantik tersebut berkuasa di bumi para nabi ini. Bagaimana indahnya istana sang ratu ketika itu, sungguh pengembaran pikiran yang menyenangkan. Tapi di hadapan sana kini hanya puing-puing batu yang berdiri secara kharismatik menghadap ke tengah laut. Di sanalah hamam Cleopatra berada. Karena hari sudah mulai petang dan ombak laut yang terlihat ganas, maka para peserta tidak diperkenankan terlalu mendekati tepian. Apalagi udara cukup dingin. Kami hanya memotret beberapa tempat dan menikmati sejenak tepian pantai yang terus terkikis ombak.

Matahari telah tenggelam, azan maghrib berkumandang. Kami bersiap-siap meninggalkan Hamam Cleopatra dan menuju lokasi selanjutnya. Lokasi terakhir sebelum meningalkan kota Matrouh adalah Suq Libya, ruko pasar yang cukup luas dan menjual berbagai macam aneka barang. Namun tidak sesuai namanya, barang-barang yang dijual di sana, juga tidak jauh beda dengan barang-barang di Kairo. Yang berbeda hanya di sana masih menjual oleh-oleh khas Siwa, seperti minyak Zaytun, Kurma dan lain-lain.

Tidak lama kami keliling di Suq Libya, karena hari sudah mulai malam. Saya sempat ngobrol dengan orang yang sedang menikmati kopi di kedai, mereka tampak lebih ramah dari orang-orang yang saya temui di Kairo. Sambil menikmati segelas kopi panas di kedai, merebahkan badan dan melepas penat, ternyata perjalanan menyusuri kota Matrouh dan Siwa sangat melelahkan. Dua betis seperti habis dipukuli besi. Tapi jika mengingat kembali petualangan Siwa-Matrouh sontak segurat senyum mengembang. Kaki yang lemas mulai melangkah menuju bus yang sudah siap akan meluncur pulang ke Alexanderia. Perlahan-lahan, berpasang kaki itu meninggalkan jejak Matrouh yang semakin ramai di malam hari. Mesin bus sudah menyala, saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk Matrouh dan Siwa. Semoga suatu saat kaki ini bisa berkunjung kembali menikmati paronama indah kedua kota tua tersebut.@

sumber: kamarbudaya.com

foto: dokumentasi penulis

Related Posts

About The Author

Add Comment