Maulidan di Cairo

Oleh Ahmad Muhakam Zein

Oasemuslim | Hari Senin Rabiul Awwal (13/1/2014) menjadi puncak peringatan maulid Nabi di kawasan Husein, Kairo. Ribuan orang terlihat memadati area masjid tempat dimakamkannya jasad sayidina Husein itu. Mereka saling melontarkan salam dan salawat kepada baginda Nabi. Ahmad Muhakam Zein dari Kairo mencatat peristiwa itu sebagai berikut:


Kairo– Siang itu kawasan masjid Husein Kairo tampak lebih ramai dari biasanya. Ribuan orang berpakaian khas tarekat sufi tumpah ruah di komplek masjid yang letaknya berdekatan dengan kompleks masjid al-Azhar as-Syarif. Penduduk pribumi Mesir dari sekitaran Kairo juga tampak berbaur dengan ribuan pengunjung yang mayoritas berafiliasi ke tarekat-tarekat sufi di Mesir. Mereka melakukan pawai dari kawasan depan masjid Syekh Shaleh Ja’fari Darasah menuju masjid Imam Husein yang berjarak 500 meter, sambil sesekali menarikan tari-tarian sufi dan mendendangkan salawat salam atas Nabi.

Tujuan para pengunjung datang dari jauh semata untuk turut merayakan maulid Nabi yang kebetulan perayaan puncaknya juga jatuh pada hari Senin. “Kami datang ke sini karena kami mencintai nabi. Setiap tahun kami datang. Kami bersuka cita dan ziarah ke makam cucu Muhammad, sayidina Husein. Shallu ‘ala an nabi,” pungkas Hammada dari Thantha penuh semangat.

Sebuah kemeriahan yang sontak membawa ingatan ini kepada kemeriahan tradisi Grebek Maulid Nabi di area keraton Jogjakarta. Sama-sama sebagai bentuk ekspresi kecintaan masyarakat atas hari ulang tahun Sang Penuntun Umat dan Pembawa Risalah Ilahi. Merayakan maulid Nabi Muhammad SAW sendiri sebagaimana disepakati mayoritas ulama Syafii adalah amaliah yang utama, karena merupakan ungkapan suka cita atas kelahiran Nabi, dan juga ungkapan cinta kepada Rasulullah. Maulid juga sebagai manifestasi sabda Rasulullah: “Tidak disebut beriman salah satu di antara kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari).

Syahdan, Allah meringankan siksa Abu Lahab di neraka pada setiap Senin, itu tiada lain karena Abu Lahab dahulu bersuka cita atas kelahiran Nabi Muhammad dengan memerdekakan budak perempuannya yang bernama Tsuwaybah.

Masjid Husein yang juga sebagai masyhad (pemakaman orang yang syahid di jalan Allah) sayidina Husein memang dikenal sebagai tempat berkumpulnya berbagai tarekat sufi yang terdapat di Mesir. Seluruh tarekat yang ada di Mesir menganggap masyhad Husein sebagai pusat ritual dan spiritual mereka di hari-hari besar Islam tertentu. Tidak ada monopoli atau klaim bahwa kelompok tarekat tertentulah yang paling berhak menguasai masjid Husein.

Semua saling toleran menjalankan ritual tarekatnya sesuai keyakinan kelompoknya masing-masing tanpa saling mengintervensi. Bahkan seringkali sekelompok pengikut Syiah asal Iran pun ikut melakukan ziarah dan ritual di masjid itu. Makam sayidina Husein setiap harinya hampir tidak pernah sepi dari peziarah yang berkunjung. Apalagi pada momen-momen seperti maulid Nabi, perayaan masa pemindahan kepala sayidina Husein dan haul Sayidina Husein sendiri.

Seolah tidak mau kalah dengan kaum Sufi, para Ulama di Mesir pun merayakan maulid Nabi dengan membuat acara berbeda-beda, di tempat yang berbeda-beda pula. Di antaranya yang diadakan oleh syekh Ali Jum’ah di masjidnya, perayaan oleh beberapa syekh Azhar di auditorium Madyafah syekh Ismail Shadiq al-Adawi, khataman dan ijazahan kitab al-Nasaim al-Athariyah min Miski al-Shirah wa Syamail al-Muhammadiyah di auditorium Madyafah depan kampus al-Azhar Darrasah bersama Dr. Majdi Asyur, pembacaan Burdahnya Imam Bushiri oleh Syekh Fauzi al-kunati di Madyafah, hingga perayaan yang dilakukan syekh Hisyam Kamil di masjid Sayyidah Fathimah Abbasiyah dan di masjid Zahir Beibers.

Salah satunya yakni perayaan maulid Nabi SAW yang diadakan oleh Syekh Ali Jum’ah, mantan Mufti Republik Arab Mesir. Ratusan orang terlihat penuh khidmat memadati masjid Fadhil di komplek Hay Mutamayyiz kawasan Sitta October Kairo. Selain dari kalangan mahasiswa al Azhar dan masyarakat pribumi setempat, acara tersebut juga dihadiri oleh sebagian ulama al-Azhar, seperti Syekh Amru Wardani, Syekh Isham Anas, Syekh Syaltut, Syekh Ahmad Hajin dan Syekh Jamal Faruq.

Acara yang sudah menjadi agenda rutin tahunan ini, dimulai bakda Maghrib dengan lantunan ayat-ayat al-Quran, pembacaan maulid barzanji, pembacaan syair madah oleh grup nasyid Abu Syiir dari Suriah dan dipungkasi mauizah serta doa dari syekh Ali Jum’ah.

Semantara itu, perayaan maulid juga berlangsung di lingkungan belakang kampus al-Azhar, tepatnya di auditorium Madyafah syekh Ali Jum’ah (Selasa, 21/1/2014) bersama Syekh Usamah Sayyid al-Azhari. Dalam acara itu, Syekh Usamah selain merayakan Maulid Nabi SAW juga mengkhatamkan kitab al-Maurid al-Hani fi al-Maulid al-Saniy karya Imam al-Hafid al-Iraqi. Acara khataman dimulai bakda Zuhur dengan diselingi pembacaan kasidah dan madah atas Nabi yang begitu menyentuh kalbu oleh Syekh Ihab Yunus dan penyair Mustafa Athif. Acara khataman berlangsung hingga bakda Asar dan ditutup dengan pemberian ijazah kitab oleh beberapa syekh yang hadir.

Hikmah Perbedaan Pendapat

Ada hal menarik yang penulis dapat dari konklusi syekh Ali Jum’ah terkait perbedaan waktu hari lahir nabi Muhammad SAW. Dari beberapa sumber, Rasulullah SAW dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang tanggal berapa sebenarnya beliau dilahirkan. Sebagian ulama yang pendapatnya unggul mengatakan beliau lahir tanggal 12 bulan Rabiul Awal. Ada yang mengatakan tanggal 8, ada pula yang mengatakan tanggal 21 Rabiul Awwal. Dari perbedaan itu, seolah-olah Allah SWT menyembunyikan kepastian hari kelahiran Rasulullah. Seperti halnya ketika Allah menyembunyikan kapan pastinya Lailatul Qadar turun. “oleh karena faktor perbedaan itu, kita tidak hanya akan merayakan hari kelahiran beliau pada satu hari saja di bulan Rabiul Awwal, tapi akan merayakan selama sebulan penuh. Di bulan ini kita akan memahami pribadi Rasulullah, membenarkan beliau dan hidup dengan akhlak beliau,” beber syekh Ali Jum’ah dalam ceramahnya.

Dalam keterangan di tempat berbeda, Syekh Fathi Abdurrahman al-Hijazi mengungkapkan, bahwa memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah untuk memuliakan, mengagungkan dan mengikuti akhlak Nabi. Beliau adalah Nabi yang disiapkan oleh Allah untuk menjadi rahmat seluruh alam semesta. Lisan beliau tidak pernah bersabda kecuali perkataan yang baik, beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, dan kebaikan beliau selalu mengalir kepada umatnya. Para ulama salaf sejak abad ke-4 dan ke-5 telah merayakan maulid Nabi dengan macam-macam amaliah, semisal menyedekahkan makanan, membaca al-Quran, dzikir dan menyanyikan syair madah pujian kepada baginda Nabi. Hal itu telah dijelaskan oleh banyak ulama, seperti Ibnu Jauzi, Ibnu Katsir, Ibnu Dihyah al-Andalusi, Ibnu Hajar, Ibnu al-Hajj dalam al-Madkhal-nya dan Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya Husnul Maqsid fi Amal al-Maulid. @

Related Posts

About The Author

Add Comment