Masa depan NU-Muhammadiyah dalam konteks Keummatan

Oleh: Fadh Ahmad Arifan

Dalam konteks keummatan sebenarnya 2 organisasi terbesar di Indonesia ini memiliki imej dan nasib berbeda hingga sekarang. Di mata kalangan “radikal”, Muhammadiyah secara kultural keagamaan ada kemiripan dengan mereka baik dari segi visi-misi perjuangan. Karenanya sasaran dakwah mereka tidak tertuju kepada massa Muhammadiyah namun lebih kepada warga NU dan kalangan abangan.

Sementara di mata masyarakat pedesaan dan abangan, citra  Muhammadiyah lebih dekat sebagai gerakan yang berbau wahabi daripada sebagai gerakan reformis dan sosial. Karenanya penetrasi dakwah Muhammadiyah di pedesaan tidak sampai mengakar sebagaimana dakwah NU.

Bagaimana imej Muhammadiyah dan NU dalam perspektif nasionalis?

Jika melihat sejarah, kaum nasionalis nampaknya lebih mempertimbangkan keberadaan tokoh Muhammadiyah daripada tokoh NU. Bisa kita ketahui bagaimana kader maupun simpatisan Muhammadiyah ada yang menjadi tokoh politisi berpengaruh di berbagai partai nasionalis. Sebut saja alm. Roeslan Abdulgani di PNI. Kemudian dominasi kader-kader Muhammadiyah yang berada di dalam HMI maupun ICMI. Belum lagi Lukman Harun di lingkaran penasihat Suharto, yang konon dianggap lebih cerdas dan lobinya lebih berpengaruh ketimbang sosok Amien rais.

Yang terbaru adalah keberadaan Prof. Malik Fadjar di jajaran anggota Wantimpres Jokowi. Sebetulnya, Syafii ma’arif sempat diusulkan Jusuf kalla masuk jajaran Wantimpres, namun beliau tidak bersedia. “Deputi SDM Setneg nelepon saya, langsung saya jawab saya tidak bersedia. Saya ini sudah berumur,” ujarnya.

Kader NU juga ada yang berkiprah di partai nasionalis, hanya saja pengaruhnya tidak seberapa dan sering mendapat tempat kedua setelah orang Muhammadiyah. NU, akan diambil manfaatnya oleh golongan nasionalis dalam hal massa/jamaahnya yang besar. Presiden ke 6 SBY pun membikin semacam majelis dzikir dimana kebanyakan isinya adalah warga nahdliyin. Dalam bidang politik, Muhammadiyah memiliki nasib, pengaruh dan masa depan yang lebih baik ketimbang NU. Tokoh-tokoh Muhammadiyah pun tersebar di berbagai partai selain PAN.

Seingat saya, dulu yang melantik Gus dur dan yang melengserkannya adalah orang-orang modernis yang berkolaborasi dengan nasionalis, sehingga menimbulkan gejolak ekstrimisme pada pengikut fanatik Gus dur. Mereka mengirim pasukan berani mati yang dibekali jimat, merusak panti asuhan Muhammadiyah dan kantor Golkar. Dengan berat hati bisa dikatakan bahwa dalam segala aspek kehidupan berbangsa kecuali di level masyarakat pedesaan, NU memang mayoritas jumlahnya, namun dari segi pengaruh mentalnya untuk sementara masih minoritas.

Sebenarnya NU juga memiliki sumbangsih nyata dalam tatanan politik Islam. Misalnya PKS yang terbukti memakai para cendekia NU yang memiliki gelar akademis untuk mengisi jajaran DPP dan Dewan syuro PKS. Mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan, agar NU memiliki pengaruh signifikan, tidak dianggap sebelah mata dan punya masa depan cerah sehingga dapat mengejar ketertinggalannya dengan Muhammadiyah, Hidayatullah, Jamaah Tarbiyah maupun organisasi lainnya, alangkah baiknya jika melakukan beberapa langkah-langkah ini: Pertama, kader-kader NU harus menuntut ilmu hingga jenjang master dan doktoral; memperbaiki manejemen organisasi dan transparansi, khususnya di bidang pendidikan.

Dalam pandangan banyak orang, sejauh ini petinggi-petinggi NU kurang perhatian dalam hal pendidikan dibanding soal politik. Sudah jamak diketahui bahwa NU kurang memiliki manejemen yang handal, SDM yang kurang kompeten, ketidakjelasan arah dan konsep pendidikan. Sebagai organisasi terbesar di pulau Jawa, NU hingga kini belum mempunyai Universitas sekelas Unmuh Malang, Unmuh Surakarta, Unmuh Yogyakarta dan Unmuh Ponorogo. Lumayan di Era kepemimpinan KH Said Aqiel siraj, NU sudah punya STAINU di Jakarta, UNU Kaltim, UNU Cirebon, UNU Sidoarjo dan UNU di Surabaya.

Kedua, kurangi tradisi-tradisi dan ritual agama yang menguras banyak dana. Wapres JK baru baru ini menasihati supaya warga NU kurangi shalawatan dan istighosah. “Ke depannya NU jangan hanya memikirkan salawat dan istigosah. Tapi harus bergerak, bekerja bersama dengan umat kerja keras.” Menurutnya, shalawat dan istighosah yang terlalu sering tidak akan berpengaruh terhadap kemajuan bangsa apabila tak diimbangi dengan kerja keras. Ketiga, serahkan kepemimpinan organisasi kepada kaum cendekia dan jami’iyyah NU harus membuka diri terhadap sisi positif organisasi lain.

Terakhir adalah, hendaknya Muhammadiyah dan NU meninggalkan masalah furu’iyyah, bergandengan tangan dan saling menguatkan satu sama lain. Problem keummatan yang wajib dihadapi dua ormas ini adalah pemberlakuan MEA di awal 2016, infiltrasi aliran sesat seperti Syiah, perusakan Lingkungan, gencarnya Kristenisasi dan penyakit korupsi. Sesama muslim harus bersaudara serta jangan saling mencela. Islam di Indonesia akan diuntungkan dengan bersatu padunya NU dan Muhammadiyah. Wallahu’allam@


Penulis adalah Alumni Jurusan Studi Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Malang

Related Posts

About The Author

Add Comment