Kyai Said Aqil mengaku tidak bermaksud melecehkan siapa pun terkait pernyataannya perihal jenggot

Sebagaimana diberitakan situs kabarmakkah.com, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Kyai Said Aqil Siradj, mengaku tidak bermaksud menghina atau melecehkan siapa pun terkait pernyataannya perihal jenggot. Ia mengatakan, lontarannya mengenai jenggot hanya guyon. “Itu kan guyon saja. Masalah jenggot itu bercanda,” ujar Said, sebagaimana ditulis kabarmakkah.com.

Sebelumnya, dalam sebuah ceramah, Kyai Said Aqil mengatakan bahwa jenggot memiliki hubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Menurut dia, semakin panjang jenggot seseorang, maka kecerdasannya semakin berkurang.

Pernyataan tersebut dinilai bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam yang meminta umatnya untuk memelihara jenggot. Ia juga mengatakan bahwa memanjangkan jenggot merupakan budaya Arab, yang tidak harus dilestarikan.

Dalam sebuah video yang diunggah di youtube Kyai Said Aqil mengklarifikasi  pernyataannya tersebut sebagai berikut:

“Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasulullah.”

“Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.”

“Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.”

“Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol kearifan jiwanya.”

“Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah.” @(A-aa) Terkait: Buya Yahya: Hati-hati dengan perkataan yang melecehkan Arab

 

Related Posts

About The Author

Add Comment