Kisah orang-orang yang memeluk Islam lantaran mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran

Oleh Abdur Raheem Green

ZAMAN Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam merupakan masa dimana orang-orang Arab berada di puncak kemahiran berbahasa. Salah satu puisi terbaik yang pernah disusun dalam bahasa Arab, dibuat pada zaman Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam oleh seorang pria yang penasaran kepada Nabi.

Namanya adalah Labeid bin Rabia. Dan jika ia membacakan puisinya di wuhaz menyebabkan orang-orang Arab bersujud di hadapannya karena merasa kagum. Namun, ketika Labeid mulai mendengar ayat-ayat Al-Quran, dia memeluk Islam dan berhenti berpuisi.

Ia pernah diminta untuk membacakan beberapa puisi, dan ia berkata, “Puisi apa yang lebih hebat dari Al-Quran?” Memang banyak orang Arab masuk Islam hanya karena mendengar Al-Qur’an, karena mereka tahu bahwa itu adalah bukti nyata bahwa Al-Qur’an berasal dari Tuhan.

Mereka tahu bahwa tidak ada orang yang bisa menghasilkan sesuatu seperti Al-Quran dalam hal kefasihannya. Anda tahu tantangan Al-Quran pada dasarnya bukanlah untuk menghasilkan, karena beberapa orang mungkin mengira karya sastra yang menakjubkan seperti Shakespeare, Shelly, Keats, Homer, atau siapapun yang merupakan sastrawan besar. Tidak.

Tantangan dari Al-Quran adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar. Karena Al-Quran berbeda dalam strukturnya. Struktur Al-Quran itu berbeda dari karya apapun dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, puisi dibagi menjadi 16 “bihar” yang berbeda.

Kata “bihar” berarti “laut”, kenapa? Karena setiap puisi bergerak sesuai dengan pola ritmis yang berbeda. Dan kemudian orang-orang Arab memiliki puisi dari para peramal: ada prosa, ada prosa berirama, serta pidato normal.

Jadi inilah bentuk-bentuk bahasa Arab. Namun Al-Quran, meskipun tampaknya mencerminkan beberapa bentuk itu, tapi tidak satupun dari mereka yang masuk dalam kategorinya. Al-Quran itu unik. Tidak seperti puisi manapun yang orang Arab pernah dengar sebelumnya, tidak masuk ke dalam salah satu kategori, namun pada saat yang sama terasa masuk akal, lebih dari masuk akal, bahkan sampai pada puncak kefasihan. Dan inilah yang membuat Al-Quran tak dapat ditiru.

Dan begitu orang-orang Arab penyembah berhala mendengar pesan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam, pesan bahwa mereka harus meninggalkan penyembahan benda-benda. Mereka tidak boleh menyembah berhala, mereka tidak boleh menyembah orang, mereka tidak boleh menyembah satu sama lain, melainkan harus berdoa dan menyembah hanya satu Tuhan.

Inilah inti risalah dari Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam dan juga pesan dari semua nabi. Ketika mereka mendengar pesan ini, banyak dari mereka tidak menyukai apa yang mereka dengar. Mereka mulai memberontak, terutama orang-orang kaya dan orang-orang kuat, karena dalam pikiran mereka, hal itu mengganggu kepentingan mereka.

Ka’bah adalah pusat ziarah bagi semua orang di dataran Arab. Mereka biasa datang ke Ka’bah dan suku yang bertanggung jawab atas Bait Allah di sekitar masjid al Haraam, Masjid suci, Ka’bah, dan sekitarnya dikenal sebagai suku Quraisy. Dan mereka suku yang paling dihormati di Arabia pada waktu itu.

Memang Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam sendiri berasal dari Quraisy. Quraisy adalah suku besar dan Nabi shallahu ‘alaihi wasalam berasal dari Bani Hashim yang merupakan salah satu percabangan dari suku Quraisy.

Namun suku Quraisy ini secara keseluruhan berada dalam keadaan putus asa karena pesan Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam. “Bagaimana mungkin dia membuang semua berhala dan menyeru untuk menyembah satu Tuhan? Bagaimana mungkin dia membuat semua ini menjadi penyembahan satu Tuhan?”

Mereka membayangkan jika hal ini terjadi dan berhala-berhala dihilangkan dan Ka’bah hanya untuk menyembah satu Tuhan, siapa yang akan datang ke Ka’bah? Siapa yang akan datang ke Mekkah? Siapa yang akan menunaikan ziarah?

Sebenarnya, apa yang ada dalam pikiran mereka adalah kepentingan diri mereka sendiri yang bersifat material, dan bukan kebenaran. Bukan kenyataan apakah Muhammad adalah seorang Nabi atau tidak. Bukan ini yang membuat mereka tertarik.

Bahkan salah satu paman Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Lihat, sukumu menginginkan peziarah dan suku kami menginginkan peziarah, sukumu melakukan ziarah ini dan suku kami melakukan ziarah ini. Sekarang kau mengaku bahwa kau adalah seorang Nabi, bagaimana mungkin kami bisa menyaingimu?”

Dengan kata lain ia mengakui bahwa penolakannya untuk mengikuti Islam hanya didasarkan pada kesetiaan sukunya, yang merupakan batu sandungan bagi kebenaran. Sesungguhnya mereka mengikuti jalan bencana.

Lalu, mereka berkumpul bersama-sama, “Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana kita akan memerangi Al-Quran ini, seruan yang menakjubkan ini, yang menarik, yang membuat terpesona para pendengarnya.”

Alkamar Ibnu Abdul Manaf, berbicara dalam pertemuan para pemimpin Quraisy, “Oh, Quraisy. Sebuah bencana baru telah menimpa sukumu. Ketika Muhammad adalah seorang pria muda, ia yang paling disukai di antara kamu, yang paling jujur dalam ucapan, yang paling dapat dipercaya hingga saat kamu melihat uban di pelipisnya, dia membawakan kalian pesan ini. Kalian mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir.”

“Tapi dia bukan penyihir. Karena kita telah melihat para penyihir hanya memainkan trik mereka semata. Kau bilang dia adalah seorang peramal. Tapi kita telah melihat orang-orang seperti itu dan perilakunya, dan kita telah mendengar bagaimana sajak para peramal. Dan kalian juga mengatakan, dia adalah seorang penyair. Tapi dia bukan seorang penyair, karena kita tahu setiap jenis puisi.”

“Kalian mengatakan, dia kerasukan. Tidak, dia tidak kerasukan. Kita telah melihat orang-orang yang kerasukan dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti kerasukan, misalnya terengah-engah, mengigau dan berhalusinasi. Oh, orang-orang Quraisy, lihatlah urusan kalian, karena Demi Allah, hal yang serius telah menimpa kalian.”

Dan orang-orang Quraisy tidak tahu harus berkata apa. Mereka mencoba semua hal-hal yang berbeda. Mereka menuduh Nabi seorang peramal, mereka menyebutnya seorang penyihir, mereka memanggilnya penyair, mereka memanggilnya orang kerasukan.

Tapi tak satu pun dari tuduhan ini yang sesuai. Orang-orang tidak percaya, karena ketika mereka bertemu Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam, mereka tahu bahwa dia tidak seperti tuduhan-tuduhan itu. Jadi mereka memutuskan bahwa mereka akan memberitahu orang-orang, “Keajaiban pidatonya membuat manusia menjauh dari ayahnya, istrinya, saudaranya, keluarganya, dan sukunya.” Inilah yang mereka katakan. Dan tentu saja hal itu benar.

Dalam arti lain, pesan yang disampaikan bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali satu Tuhan, adalah sesuatu yang sangat revolusioner, sangat berbeda. Itu adalah sesuatu yang memisahkan orang-orang yang menyembah satu Tuhan dari orang-orang yang menyembah hal lain selain satu Tuhan. Maka inilah tuduhan yang mereka putuskan, “Keajaiban pidatonya membuat manusia jauh dari ayahnya, saudaranya, istrinya, keluarganya.”

Dan kemudian Abu Lahab. Abu Lahab adalah salah satu paman Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasalam,dan Abu Lahab biasanya menunggu di jalan menuju Mekkah di musim haji. Haji adalah semacam ziarah, ziarah tahunan dan telah dilaksanakan selama ribuan tahun, bahkan sebelum masa Nabi Muhammad, orang Arab terbiasa berhaji ke Mekkah. Tapi berhaji menjadi rusak sejak penyembahan berhala selama bertahun-tahun.

Namun demikian orang-orang masih sering datang dari seluruh dataran Arab untuk berhaji dan ini menjadi sumber kekayaan Quraisy. Tentu saja mereka takut bahwa Islam akan menghancurkannya. Ya, kita bisa melihat betapa banyak orang yang pergi ke Mekkah hari ini. Sangat banyak.

Abu Lahab ini memperingatkan orang-orang, dia sering berkata, “Hati-hati dengan Muhammad. Ya, memang dia adalah keponakan saya, tapi jangan dengarkan dia. Muhammad sering berpidato, dan jika kau mendengarkannya, kau akan jatuh di bawah mantranya.”

Dan ada seorang pria. Namanya adalah Tufayl ibn Amr. Tufayl adalah kepala suku Douse. Ia juga dikenal sebagai seorang penyair yang sangat mahir. Pendeknya, dia adalah orang penting dalam masyarakat.

Ia tengah dalam perjalanan untuk berhaji. Saat ia tiba di Mekkah, dia disapa oleh salah satu orang Mekkah yang memperingatkannya, “Muhammad seperti ini, Muhammad seperti itu, hati-hati akan pria ini, dia sangat berbahaya! Pidato bisa membuatmu gila dan menjauhkanmu dari segala sesuatu yang kau tahu dan kau cintai.” Demikianlah yang mereka katakan.

Tufayl ibn Amr, dia menuturkan kisahnya,” Aku mendekati Mekkah dan ketika para pemimpin Quraisy melihatku, mereka datang kepadaku, memberiku sambutan yang paling hangat dan mengajakku ke sebuah rumah yang besar. Mereka tahu caranya menjamu orang penting.

Para pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakat kemudian berkumpul dan berkata, “Ya Tufayl, kau telah datang ke kota kami dan orang ini –dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang nabi – dia telah mengganggu kepentingan kami.”

“Dia mengganggu kepentingan kami dan menghancurkan komunitas kami. Kami takut ia juga akan mempengaruhimu, mengganggu kepentingan dan komunitasmu seperti yang telah dilakukannya dengan kami. Jangan berbicara dengan orang itu. Jangan dengarkan apa yang dia katakan. Dia memiliki pidato seperti sihir yang menjauhkan ayah dan anak, kakak dan adik, suami serta istri.”

“Dan mereka terus menceritakan padaku cerita yang paling fantastis dan menakutiku dengan kisah-kisah yang luar biasa dari perilaku Muhammad. Aku pun memutuskan untuk tidak mendekati orang ini, atau berbicara kepadanya, atau mendengarkan apa yang dikatakannya.”

“Keesokan harinya aku pergi ke tempat ibadah, ke Ka’bah dan Thawaf di sekitarnya sebagai bagian dari ibadah menyembah berhala yang kami muliakan. Aku meletakkan kapas di telinga, karena takut pidato Muhammad mungkin mempengaruhiku. Segera setelah aku memasuki tempat ibadah, aku melihat ia berdiri di dekat Ka’bah.”

“Ia berdoa dengan cara yang berbeda dari doa kami. Seluruh cara beribadahnya berbeda. Dan hal itu memikatku. Ibadahnya membuatku gemetar dan aku merasa tertarik padanya meskipun aku takut, sampai aku cukup dekat dengannya. Tidak mampu menahan tindakan pencegahan yang telah kulakukan. Tuhan menghendaki sebagian kata-katanya terdengar olehku dan aku berkata pada diri sendiri:

“Kenapa juga harus takut? Kau adalah penyair yang cerdik, kau dapat membedakan antara puisi baik dan puisi buruk. Apa yang mencegahmu mendengarkan apa yang orang ini katakan? Jika apa yang dikatakannya baik, terima saja dan jika itu buruk, tolaklah.”

“Aku tetap di sana sampai Nabi berangkat ke rumahnya. Aku pun mengikutinya, kemudian ia memasuki rumahnya dan aku masuk juga. Dan aku berkata: “Ya Muhammad, kaummu menceritakan sesuatu tentangmu kepadaku. Demi Tuhan mereka terus menakutiku dengan hal-hal itu dan menjauhkanku dari pesanmu sampai-sampai aku menutup telingaku agar tidak mendengarkan perkataanmu. Meskipun begitu, Tuhan membuatku mendengar sebagian dari kata-katamu dan kurasa pesanmu adalah pesan yang baik. Jadi ceritakan kepadaku tentang tujuanmu.”

Nabi shallahu ‘alaihi wasalam pun memberitahu Tufayl tentang tujuannya. Tufayl mengatakan, “Dan kemudian dia membacakan kepadaku surat Al Falaq. Aku bersumpah Demi Tuhan, aku belum pernah mendengar kata-kata yang begitu indah sebelumnya. Juga tidak pernah kudengar tujuan yang lebih mulia sebelumnya. ”

“Kemudian aku mengulurkan tanganku kepadanya dalam kesetiaan dan bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali satu Tuhan dan bahwa Muhammad benar-benar utusan Tuhan. Dan itulah kisahku masuk agama Islam.”

Demikianlah. Bahkan para pemimpin Quraisy sebenarnya tidak mampu menahan diri mereka ketika mendengarkan Al-Qur’an. Sebagaimana Tufayl yang telah mendengar Al-Quran dan seperti yang saya katakan, dia kemudian menjadi seorang Muslim. Para pemimpin Quraisy, mereka tidak dapat menahan dan menolaknya.

Menurut sirah atau biografi Ibn Isya, dia menyebutkan salah satu kejadian ketika Abu Sufyan yang merupakan pemimpin Quraisy, begitu juga Abu Jahal dan Abu Annas, mereka menyelinap keluar dari rumah mereka, dan mendengarkan Al-Quran sampai fajar dalam persembunyian. Dan dalam perjalanan pulang, mereka saling bertemu satu sama lain. Mereka pun mencela satu sama lain sambil berkata, “Jangan pernah melakukannya lagi sebab jika salah satu warga melihatmu, maka itu akan menimbulkan kecurigaan dalam pikiran mereka.”

Akhirnya mereka semua berjanji. Tapi hal ini terjadi tiga malam berturut-turut. Mereka tetap menyelinap keluar rumah hanya untuk mendengarkan Nabi membaca Al-Quran. Dan lagi-lagi mereka saling bertemu satu sama lain. Sampai pada akhirnya mereka bersumpah dengan sangat serius, bahwa mereka tidak akan pernah melakukannya lagi.

Inilah mukjizat Al-Quran. Kefasihan bahasanya begitu sempurna, sehingga bahkan jika seluruh master dari semua jenis puisi Arab waktu itu dikumpulkan, tidak akan dapat menciptakan puisi yang sebanding dengan surat terpendek dari Al-Quran.

Karenanya, tentu mereka memilih untuk melawan Nabi daripada memenuhi tantangan ini. Derajat kebangsawanan mereka bisa mati, perdagangan dan reputasi mereka bisa hancur. Ya. Mereka lebih memilih hal-hal tersebut daripada menciptakan sesuatu yang menandingi ayat-ayat Al-Quran?

Kisah lain mereka yang masuk Islam karena mendengar Al-Quran adalah Kisah Umar ibn Al Khatab. Ia menjadi salah satu pembela Islam yang paling kuat, yang sebelumnya tak lain salah satu musuh kaum muslimin yang paling ditakuti.

Dan masih banyak lagi kisah orang-orang yang memeluk Islam hanya dari mendengar ayat-ayat Al-Quran Mulia. Sebagai bukti bahwa Islam adalah agama yang berada di atas kebenaran.@ Sumber: sebagaimana ditranskrip dari acara The Proof that Islam is The Truth Kisah Mereka yang Mendengar Al-Quran” oleh Abdur Raheem Green dengan penyuntingan redaksi

Related Posts

About The Author

Add Comment