Kita bisa berbahagia dengan cara yang sederhana

Oleh Abu Alif Alfatih

Sahabat yang budiman. Betapa sehat adalah karunia tak terkira. Kita sering lalai dan kurang obyektif dalam menginsyafi hal ini. Baru setelah terlanda sakit, kita menjadi gamblang melihatnya.

Karena sehat semua menjadi bermakna. Bahkan hal yang paling sederhana. Misal, minum teh dan mengobrol bersama sahabat atau handai taulan. Ya. Alangkah nikmat dan bahagianya! Dari sini kita bisa mengerti, bahwa kenikmatan dan kebahagiaan sebenarnya bisa dicukupkan prasyaratnya. Tidak selalu harus muluk begini dan begitu. Betapa manusia memang gemar merepotkan diri dengan perkara yang mengandai-andai. Andai begini, andai begitu, dst.

Tapi kita memang manusia, yang tak berhenti diliputi hasrat kepingin segalanya. Meskipun tahu, itu menjadikan kita rusuh dalam menakar sesuatu. Di titik syukur yang lumrah, mungkin kita berkata, cukuplah jika aku sudah punya rumah. Hidupku akan bahagia! Tapi menjadi lain soalnya jika itu sudah terlaksana. Karena orang toh butuh kerja. Dan kerja pun ternyata bukan terminal pemberhentian keinginan, karena muncul standar kelayakan penghasilan. Setelah penghasilan memadai, muncul kebutuhan tambahan yang rempong mengekor pada parameter sosial. Begitu seterusnya.

Tapi coba jika kita sakit gigi. Segala hal yang telah kita miliki bisa bernilai non sense. Dengan sendirinya keinginan susut menjadi sekedar mendambakan kesembuhan. Rumah mewah, mobil lux, prestise sosial, dan hal-ihwal sekunder yang lain baru terasa sebagai surplus nikmat yang berstatus tidak harus. Ya. Ternyata sakit bisa juga menjadi jendela kita memandang hikmah suatu perkara. Dengan sakit, kita berada pada wilayah yang bebas dari polusi kasak-kusuk hati.

Itu kalau sakit gigi, yang tergolong sakit ringan. Banyak sahabat, saudara atau keluarga yang menanggung sakit berkategori berat: jantung, ginjal, paru-paru, liver, kangker, stroke dan semacamnya. Harus tarak ini dan itu, harus rutin terapi, harus istirahat cukup. Hampir-hampir waktu terampas habis untuk sekedar mengupayakan kesembuhan. Semua jadi tidak enak dan tidak nyaman. Maka, bagi yang sehat, berempati dan membantu mereka adalah perbuatan mulia.

Mulia, karena banyak pembelajaran di dalamnya. Dalam itu kita diajari meraih lagi rasa syukur yang berangkali diam-diam rajin kita khianati. Dan supaya, segala hal yang kita terima, yang kita nilai terlalu seadanya, memantulkan segala maknanya. Di batas ini kita bisa menghargai semua yang kita miliki. Toh kita bisa berbahagia meski dengan cara dan sesuatu yang sederhana, yang mungkin saja orang lain tidak memilikinya.

Allah telah berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Related Posts

About The Author

Add Comment