Ketika surat Nabi Shallahu ‘alaihi wasalam dibacakan di Pengadilan Agung Heraclius

KITAB Sahih Bukhari menuliskan tentang bagaimana Nabi Muhammad ketika berada di Madinah. Beliau mengirim surat kepada para penguasa dan pejabat di seluruh dunia pada saat itu, termasuk Kaisar Romawi, Persia, Paus di Roma, Negus dari Abyssinia, Kaukus pemimpin Kots di Mesir. Dan salah satu dari surat-surat itu sampai pada Heraclius.

Heraclius adalah Kaisar Romawi pada waktu itu. Dan ketika Heraclius menerima surat ini, dia memanggil penerjemahnya dan berkumpul bersama beberapa orang Arab pada waktu itu, yang salah satu dari mereka kebetulan adalah Abu Sufyan.

Abu Sufyan adalah sepupu Nabi dan ia adalah pemimpin Mekkah, yang kala itu menentang Nabi Muhammad di Jazirah Arab. Kebetulan saat itu ia berada di Yerusalem ketika Heraclius menerima surat Nabi Shallahu ‘alaihi wasalam. Saya bacakan kisahnya sbb:

“Dia memanggil penerjemah yang menerjemahkan pertanyaan Heraclius dan berkata kepada mereka, “Siapa di antara kamu yang berhubungan erat dengan pria yang mengaku sebagai nabi?”

Dan Abu Sufyan menjawab, “Akulah kerabat yang paling dekat dengannya” Lalu Heraclius berkata, “Bawakanlah dia dan para sahabatnya kepadaku.”

“Heraclius kemudian menyuruh penerjemahnya untuk memberitahu sahabat Abu Sufyan. Bahwa ia ingin memberikan beberapa pertanyaan kepada saya tentang orang itu dan jika saya berbohong pastilah ceritanya bertentangan dengan cerita saya.”

(Yang bercerita ini Abu Sufyan, kita tahu bersama pada masa-masa berikutnya Abu Sufyan memeluk Islam. Dia menceritakan kisahnya ini pada Abdullah Ibnu Abbas, yang merupakan sahabat dekat Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasalam. Jadi ini merupakan kutipan dari Ibnu Abbas dari cerita Abu Sufyan.)

“Jadi kami berada di pengadilan Heraclius. Dan Heraclius berkata, “Baiklah, suruh temanmu berdiri di belakangmu dan jika ia berbohong maka kau harus memberitahuku.”

Abu Sufyan kemudian mengatakan, “Demi Allah seandainya aku tidak takut bahwa temanku akan menjulukiku seorang pembohong, aku tidak akan berbicara kebenaran tentang Muhammad.”

Lalu Heraclius mengajukan pertanyaan pertama kepada Abu Sufyan, “Apa status keluarganya di antara kaummu?”

Jawabku (Abu Sufyan menjawab), “Dia berasal dari keluarga bangsawan di antara kami.”

Dan Heraclius bertanya, “Apakah orang lain di antara kaummu ada yang pernah mengaku sebagai nabi sebelumnya?”

Aku menjawab, “Tidak.”

“Apakah seseorang di antara nenek moyangnya adalah raja?” tanya Heraclius.

Sekali lagi Abu Sufyan menjawab “Tidak.”

Heraclius bertanya, “Apakah para bangsawan atau orang miskin mengikutinya?”

Abu Sufyan menjawab, “Hanya orang-orang miskin yang mengikutinya.”

Kemudian Heraclius bertanya lagi, “Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang ?”

Abu Sufyan menjawab, “Mereka bertambah.”

Kemudian dia bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang memeluk agamanya merasa tidak senang dan meninggalkan agamanya setelah itu?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Heraclius by Rossen Toshev (from ‘Rulers of the Byzantine Empire’ published by KIBEA)Heraclius kemudian bertanya, “Apakah kalian pernah menuduhnya berbohong sebelum dia mengakui kenabiannya?”

Sekali lagi Abu Sufyan mengatakan, “Tidak.”

Heraclius berkata, “Apakah dia melanggar gencatan senjatanya?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak. Kami sedang dalam gencatan senjata dengannya sekarang dan kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat.”

(Abu Sufyan berkata, “Aku tidak bisa menemukan kesempatan untuk mengatakan apa-apa untuk menjatuhkan Nabi pada saat itu.”)

Kemudian Heraclius bertanya, “Apakah kau pernah berperang melawannya?”

Abu Sufyan berkata, “Ya.”

“Apa hasil dari pertempuran itu?”

“Ya, kadang-kadang kami menang dan kadang-kadang dia yang menang”

Kemudian Heraclius bertanya, “Apa yang dia perintahkan kepadamu?”

Abu Sufyan menjawab, “Dia menyuruh kami untuk menyembah Allah dan hanya Allah saja. Dan tidak menyembah apa-apa selain daripada-Nya. Dan untuk meninggalkan semua yang nenek moyang kami lakukan. Dia memerintahkan kami untuk berdoa, untuk berbicara kebenaran, untuk menjadi suci, dan untuk menjaga hubungan baik dengan kawan-kawan dan kerabat.”

“Heraclius meminta penerjemahnya untuk menyampaikan pesan sebagai berikut:”

“Saya bertanya tentang keluarganya dan jawabanmu adalah bahwa dia berasal dari keluarga yang sangat mulia. Saya bertanya apakah orang lain di antara kamu pernah mengklaim kenabian? Jawabanmu adalah tidak. Jika saja jawabanmu ya, aku akan menduga orang ini hanya ikut-ikutan orang sebelumnya. Artinya jika seandainya ada seseorang sebelumnya yang mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi, maka Muhammad mungkin saja meniru apa yang orang itu katakan tetapi nyatanya tidak ada satupun di antara mereka yang pernah mengakui hal itu sebelumnya.”

“Lalu saya bertanya apakah dari nenek moyangnya ada yang seorang raja? Dan kau berkata “tidak.” Jika kau mengatakan “ya”, aku menduga bahwa orang ini mencoba untuk mengambil kembali tahta kerajaannya. Dengan kata lain, dia menggunakan kedok kenabian untuk mencoba dan mengambil kembali tahta kerajaannya.”

“Lalu saya bertanya apakah dia pernah dituduh berbohong sebelumnya, sebelum dia mengakui kenabiannya –dan kau mengatakan “tidak”. Jadi aku berpikir bagaimana mungkin orang yang tidak pernah berbohong kepada orang lain, berbohong tentang Allah? ”

“Dan kemudian aku bertanya kepadamu apakah orang kaya atau orang miskin yang mengikutinya dan kau mengatakan bahwa orang-orang miskin yang mengikutinya. Dan begitulah faktanya dengan semua nabi, mereka selalu diikuti oleh orang-orang seperti itu. Para nabi selalu diikuti oleh orang miskin yang lemah dan tertindas.”

“Kemudian aku bertanya apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? Kau bilang mereka bertambah, dan itulah ciri-ciri agama yang benar karena semuanya lengkap dalam berbagai bidang.”

“Lebih jauh aku bertanya apakah ada orang yang setelah memeluk agamanya, tidak senang akannya dan meninggalkan agamanya? Dan kau berkata “Tidak.” Faktanya ini adalah tanda dari agama yang benar, ketika kegembiraan memasuki hati dan bersatu dengan mereka sepenuhnya.”

“Aku bertanya apakah dia pernah berkhianat? Kau mengatakan “Tidak”. Dan sesungguhnya para nabi memang tidak pernah berkhianat.”

Aku bertanya apa yang ia perintahkan kepadamu. Dan kau mengatakan kepadaku bahwa ia memerintahkanmu untuk menyembah Allah, dan hanya Allah saja, dan tidak menyembah apa-apa lagi selain daripada-Nya dan melarangmu menyembah berhala, dan menyuruhmu untuk berdoa, untuk berbicara kebenaran, dan tidak melakukan percabulan ilegal.”

“Jika apa yang kau katakan benar, ia akan segera menempati kerajaan ini di bawah kakiku dan aku tahu tentangnya dari kitab suci (Bible) bahwa ia akan muncul, tapi aku tidak tahu bahwa ia berasal dari kaummu, dan jika saja aku bisa menemuinya, pasti aku akan segera pergi untuk bertemu dengannya dan jika aku bersamanya, aku akan mencuci kakinya.”

Heraclius kemudian meminta surat dari Nabi yang dikirim oleh Dihya kepada Gubernur Bura, dan kemudian surat itu diteruskan kepada Heraclius untuk dibaca. Dan inilah isi surat itu:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ ” وَ {يَا أَهْلَ الكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لاَ نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}

surat untuk herakliusss“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraclius penguasa Bizantium. Semoga kesejahteraan mengikuti seseorang yang mengikuti jalan kebenaran.
Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling, maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Abu Sufyan menambahkan, “Ketika Heraclius selesai berpidato dan telah membaca surat itu, ada keharuan yang besar dan tangisan di Pengadilan Agung. Dan kami keluar dari ruang pengadilan. Aku membahas dengan temanku betapa Muhammad urusannya telah menjadi begitu besar sehingga bahkan Raja Bizantium takut padanya.

Dan kemudian aku mulai menjadi yakin, bahwa dia akan menjadi penguasa dalam waktu dekat sampai akhirnya aku masuk Islam.”@ Sumber: sebagaimana dituturkan kembali oleh Abdur Raheem Green dalam acara The Proof that Islam is The Truth, dengan penyuntingan redaksi

Related Posts

About The Author

Add Comment