Ketika langit terbelah

TAFSIR SURAH AL-INSYIQAAQ (Terbelah)

  • Surat Makkiyah, Surat ke 84: 25 Ayat, Oleh Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i
  • Disalin dari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8 hal 430-436 Terbitan Pustaka Imam Syafi’i Jakarta

AL-INSYIQAAQ 1-15 | Orang-orang mukmin menerima catatan amal mereka dari sebelah kanan dan akan melewati hisab yang mudah. Orang-orang durhaka menerima catatan amal mereka dari belakang dan mereka akan dimasukkan ke Neraka

bismilah3“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ. وَأَذِنَتْ لِرَبِـّهَا وَحُقَّتْ. وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ. وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَـخَلَّتْ. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ. يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاقِيهِ. فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُـحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا. وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُورًا. وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ. فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا. وَيَصْلَى سَعِيرًا. إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا. إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ. بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا.

Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya langit itu patuh, apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: “Celakalah aku.” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabb-nya). (Bukan demi\dan),yang benar, sesungguhnya Rabb-nya selalu melihatnya. (QS. Al-Insyiqaq/84: 1-15)

* * *

Allah Ta’ala berfirman, إِذَا السَّمَاء انشَقَّتْ  “Apabila langit terbelah.” Dan hal itu terjadi pada hari Kiamat. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا “Dan patuh kepada Rabb-nya,” maksudnya mendengar Rabb-nya dan mentaati perintah-Nya, yaitu mentaati apa yang diperintahkan kepadanya, berupa terbelahnya ia. Dan hal itu terjadi pada hari Kiamat. وَحُقَّتْ “Dan sudah semestinya langit itu patuh,” maksudnya sudah selayaknya dia mentaati perintah-Nya, karena Dia Yang Mahaagung, yang tidak dapat dihalangi dan tidak pula dapat dikalahkan, tetapi justru yang telah menundukkan segala sesuatu, segala sesuatu menghinakan diri kepada-Nya.

Kemudian Dia berfirman, وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ “Apabila bumi diratakan,” maksudnya dihamparkan, dibentangkan, dan diluaskan. Dan firman-Nya, وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ  “Dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,” yakni mengeluarkan mayat-mayat yang berada di dalam perutnya itu sehingga bumi itu benar-benar kosong dari mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Sa’id, dan Qatadah. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ “Dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.

Dan firman Allah Ta’ala, يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً  “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu,” Maksudnya, kamu pasti akan berusaha berjalan menuju Rabb-mu dan berusaha melakukan suatu perbuatan, فَمُلَاقِيهِ “Sehingga kamu pasti akan menemui-Nya.” Kemudian kamu akan menemui kebaikan atau keburukan yang telah kamu kerjakan. Ada beberapa orang yang mengembalikan dhamir (kata ganti) itu kepada firman-Nya: رَبِّكَ yaitu sehingga kamu pasti akan menemui-Nya, artinya Dia akan memberikan balasan atas perbuatanmu itu seraya mengganjar usahamu. Berdasarkan hal itu, maka kedua pendapat tersebut sejalan.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman: فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,” yakni dengan mudah tanpa kesulitan apa pun. Dengan pengertian lain, seluruh amal perbuatannya tidak dihisab secara mendetail, karena barangsiapa yang hisabnya dilakukan seperti itu (mendetail), maka tidak diragukan lagi pasti dia akan binasa. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, dia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ نُوقِشَ الْـحِسَابَ عُذِّبَ

‘Barangsiapa yang dihisab secara mendetail, pasti dia akan diadzab.’

Lalu kutanyakan, (lanjut ‘Aisyah): ‘Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman, فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيراً  ‘Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah?‘ Beliau bersabda:

لَيْسَ ذَاكَ بِاحِسَابِ وَلَكِنّ ذَلِكَ الْعَرْضُ، مَنْ نُوقِشَ الْـحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُذِّبَ

Bukan itu yang dimaksud hisab, tetapi yang demikian itu hanyalah penyajian (amal perbuatan), karena barangsiapa yang dihisab secara detail, pasti dia akan diadzab.'”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i.

Dan firman Allah Ta’ala, وَيَنقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوراً “Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.” Maksudnya, dia akan kembali kepada keluarganya di Surga. Demikian yang dikatakan oleh Qatadah dan adh-Dhahhak, dalam keadaan senang, karena merasa gembira atas apa yang diberikan Allah عزّوجلّ kepadanya.

Dan firman Allah Ta’ala, وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاء ظَهْرِهِ “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang” yakni dengan tangan kirinya dari arah belakang punggungnya, di mana tangannya itu mengulur dan diberikan buku catatanya itu kepadanya. فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُوراً  “Maka dia akan berteriak: ‘Celakalah aku.’” Yaitu kerugian dan kebinasaan. وَيَصْلَى سَعِيراً. إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُوراً “Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).” Yakni dalam keadaan senang dengan tidak memikirkan akibat yang akan diterimanya serta tidak juga takut terhadap apa yang akan diterimanya kelak, sehingga kegembiraan yang sangat sebentar itu diganti dengan kesedihan yang berkepanjangan. إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ “Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabb-nya).” Artinya, dia meyakini bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah dan Dia tidak akan mengembalikannya setelah kematiannya. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, dan lain-lain. Kata al-huur berarti kembali.

Allah Ta’ala berfirman, بَلَى إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيراً “Yang benar, sesungguhnya Rabb-nya selalu melihatnya.” Yakni memang benar, Allah akan mengembalikannya kelak sebagaimana Dia telah memulainya serta memberikan balasan atas amal perbuatannya, yang baik maupun yang buruk, karena sesungguhnya Dia Mahamelihat, yaitu Mahamengetahui lagi Mahamengenal.

AL-INSYIQAAQ 15-25 | Manusia mengalami proses kehidupan tingkat demi tingkat

فَلا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ. وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ. وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ. لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ. فَمَا لَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لا يَسْجُدُونَ . بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ. فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ.

Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja, dan dengan malam dan apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila jadi purnama, sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan(nya). Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka beri kabar gembiralah mereka dengan adzab yang pedih. Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (QS. Insyiqaaq/84: 16-25)

* * *

Kata asy-syafaq berarti ufuk yang berwarna merah, baik sebelum terbitnya matahari, sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid, maupun setelah terbenamnya matahari, sebagaimana yang dikenal di kalangan para ahli bahasa. Dan dalam kitab Shahih Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, di mana beliau bersabda:

وَقْتُ الْـمَغْرِبِ مَا لَـمْ يَغِبِ الشَّفَقُ

“Waktu Maghrib adalah selama syafaq belum terbenam.”

Firman Allah Ta’ala, وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ  “Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,” yakni dikumpulkan. Mengenai firman-Nya, وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ  “Dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,” Ikrimah mengatakan: “Suatu kegelapan yang digiring apabila malam telah tiba dan segala sesuatu pergi ke tempatnya.”

Dan firman-Nya, وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ “Dan dengan bulan apabila jadi purnama,” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Jika telah berkumpul dan menempati posisi yang sama.” Demikianlah yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, dan Sa’id bin Jubair. Makna ungkapan mereka itu adalah jika cahaya itu sudah sempurna dan menjadi purnama menuju kepada malam dan apa yang diseretnya.

Dan Firman Allah Ta’ala, لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ  “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ ‘Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),’ yaitu dari satu keadaan ke keadaan yang lain.” Dia mengatakan: “Inilah Nabi kalian صلى الله عليه وسلم” Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dengan lafazh tersebut. Dan hal itu mengandung kemungkian bahwa Ibnu ‘Abbas menyandarkan penafsiran tersebut dari Nabi صلى الله عليه وسلم, seakan-akan dia berkata: “Aku pernah mendengar hal itu dari Nabi kalian صلى الله عليه وسلم” Dengan demikian, ucapannya, “Nabiyyukum (Nabi kalian),” dengan menggunakan harakat dhammah dalam posisi sebagai fa’il (subyek) dari kata qaala, dan itulah yang lebih jelas. Wallaahu a’lam.

Dan mungkin juga mengandung pengertian bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya, لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),” adalah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dia mengatakan: “Dan itulah yang dimaksud dengan ungkapan, ‘Inilah Nabi kalian صلى الله عليه وسلم sehingga berkedudukan marfu’ (menggunakan harakat dhammah), dengan pengertian bahwa kata haadzaa dan Nabiyyukum berkedudukan sebagai mubtada’ dan khabar. Wallaahu a’lam.

Hal itu diperkuat oleh qiraat ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas serta penduduk Makkah dan Kufah secara keseluruhan[1]: litarkabanna, yaitu dengan menggunakan harakat fat-hah pada huruf ta dan ba.

Dan mengenai firman-Nya, لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat,” Ibnu Ab’i Hatim meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Engkau akan naik, hai Muhammad, langit demi langit.” Demikian itu yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Masruq, dan Abul ‘Aliyah, طَبَقًا عَن طَبَقٍ yang berarti langit demi langit.

Aku bertanya: “Apakah yang mereka maksudkan itu malam Isra’ Mi’raj?” As-Suddi sendiri mengatakan, لَتَرْكَبُنَّ طَبَقاً عَن طَبَقٍ “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat,” amal perbuatan orang-orang sebelum kalian, satu kedudukan kepada kedudukan yang lain. Dapat saya katakan, seolah-olah dia menghendaki pengertian hadits shahih:

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِا لْقُذَّةِ لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرَ ضَبٍّ

“Sesungguhnya kalian akan menjalankan sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sedikit demi sedikit, bahkan meski mereka masuk ke liang biawak sekalipun pasti kalian akan memasukinya.”

Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Kalau bukan mereka siapa lagi?”[2]

Dan itu masih mengandung beberapa kemungkinan.

Firman Allah Ta’ala, فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ. وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ  “Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila al-Qur-an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” Maksudnya, apa yang menghalangi mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari akhir? Dan mengapa pula ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat dan firman-firman Allah, yang ia tidak lain adalah al-Qur’an ini, tidak mau bersujud untuk memberikan pengagungan dan penghormatan?

Dan firman-Nya, بَلِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُكَذِّبُونَ “Bahkan orang-orang kafir itu mendustakannya,” yakni di antara watak mereka adalah mendustakan, membangkang, dan menolak kebenaran. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ  “Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).” Mujahid dan Qatadah mengatakan: “Mereka menyembunyikan di dalam hati mereka.” فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ “Maka beri kabar gembiralah mereka dengan adzab yang pedih?” yakni beritahukanlah hai Muhammad, kepada mereka bahwa Allah عزّوجلّ telah menyiapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.

Dan firman Allah Ta’ala, إِلَّا الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ “Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih,” yang demikian itu merupakan bentuk pengecualian terputus (istitsna’ munqathi), artinya, tetapi orang-orang yang beriman, yaitu dengan sepenuh hatinya dan beramal shalih, yaitu dengan anggota tubuhnya, لَهُمْ أَجْرٌ “Bagi mereka pahala,” yakni di alam akhirat, غَيْرُ مَمْنُونٍ “Yang tidak putus-putusnya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, tidak dikurangi.” Sedangkan Mujahid dan adh-Dhahhak mengatakan: “Yaitu, tidak terhitung.” Dan perpaduan antara kedua pendapat itu bahwa pahala itu tiada putus-putusnya.[]

[1]     Mereka adalah Ibnu Katsir, Hamzah, al-Kisa-i. Dan selain mereka membaca dengan memberi harakat dhammah pada huruf ya’.

[2]     Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ahmad dengan adanya perbedaan dalam lafazh.

 


 

Related Posts

About The Author

Add Comment