Ketika Khalifah Umar bin Khattab menghadapi ajalnya

Ibnu Abbas r.a. menceritakan saat-saat terakhir dalam kehidupan Khalifah Umar bin Khattab. Dia berkata, “Saya bersamanya saat kondisi tusukan di perutnya masih mengucurkan darah. Saya berkata, “Bergembiralah menyambut surga wahai Amirul Mukminin. Engkau masuk Islam ketika orang-orang masih kafir, berjihad bersama Rasulullah ketika orang-orang menghinanya, dan ketika Rasulullah wafat beliau meridhaimu. Dalam kekhilafahanmu tidak ada dua orang yang saling berselisih, dan engkau meninggal sebagai syahid.”

Dengan nada pelan Umar berkata, “Ulangilah ucapanmu.” Saya lalu mengulangi perkataanku. Kemudian Umar berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan selain diri-Nya, kalau seluruh dunia ini milik saya baik yang kuning maupun yang putih, maka saya korbankan karena ketakutan terhadap keluar ruh.”[1]

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwa Umar berkata, “Adapun menjadi sahabat nabi dan ridhanya maka itu merupakan nikmat dari Allah yang dianugerahkan Allah kepadaku. Adapun rintihanku tidak lain karena engkau dan para sahabatmu. Demi Allah, kalau aku menguasai seluruh emas yang keluar dari bumi, maka akan kujadikan sebagai tebusan karena takut kepada adzab Allah s.w.t sebelum aku melihatnya.”[2]

Umar bin Al-Khattab Al-Faruq r.a. sangat mengkhawatirkan adzab Allah, walaupun nabi Muhammad shallahu alaihi wasalam telah memberinya khabar gembira atas surga. Selain itu Umar juga telah berusaha dengan sangat maksimal untuk menegakkan hukum Allah subhanahu wata’ala dengan berlaku adil, zuhud, dan melakukan semua amal kebaikan. Dari ucapannya terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang Islam, terutama dalam mengingat adzab Allah yang pedih serta seramnya hari kiamat.[3]

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menceritakan saat-saat terakhir kehidupan Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Dia berkata, “Aku menemani Umar, sementara kepalanya berada dalam pangkuan anaknya, Abdullah. Umar berkata, “Letakkanlah pipiku menempel di bumi,” lalu ia melanjutkan kata-katanya, “Bukankah pipiku dan tanah ini sama? Letakkanlah pipiku di bumi ini.” Umar mengatakan hal itu dua atau tiga kali, kemudian kedua kakinya dilebarkan dan aku mendengar dia berkata, “Malangnya diriku, malangnya ibuku jika Allah tidak berkenan mengampuni dosaku.” Umar meninggal pada saat itu juga.[4]

Inilah contoh sifat kekhawatiran dan rasa takut Umar bin Al-Khattab Al-Faruq radhiallahu ‘anhu atas adzab Allah subhanahu wata’ala sehingga di akhir ucapannya adalah doa atas dirinya dengan ucapan, Malangnya diriku, malangnya ibuku jika Allah tidak berkenan mengampuni dosaku.” Meskipun sebenarnya dia merupakan salah satu dari sepuluh orang yang diberi khabar gembira dijamin masuk surga. Tetapi beliau sebagai orang yang makrifat billah (mengenal Allah) justru takut akan adzab Allah.

Sedangkan perintah Umar kepada anaknya untuk meletakkan pipinya menempel di tanah menunjukkan sikap merendahkan diri sendiri disertai pengagungan terhadap Allah subhanahu wata’ala supaya lebih dekat dengan ampunan Allah. Ini merupakan bukti nyata atas kedekatan hati Umar yang senantiasa memikirkan Allah.[5]


Sumber: Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Umar bin Al-Khattab, Pustaka Al-Katsar, hal.827-828

[1] Shahih At-Tautsiq fi Sirah Wa Hayat Al-Faruq, hal. 383.

[2] Al-Bukhari, Kitab Fadha’il Ash-Shahabah, 3692.

[3] At-Tarikh Al-Islami, jilid XIX, hal. 33

[4] Shahih At-Tautsiq fi Sirah Wa Hayat Al-Faruq, hal. 383.

[5] At-Tarikh Al-Islami, jilid XIX, hal. 44-45

 

Related Posts

About The Author

Add Comment