Doa yang kita panjatkan

ilustrasi: http://www.takrim-alquran.org/

Oleh Abu Alif Alfatih

Oasemuslim | Tak hanya seorang santri, pencopet pun memanjatkan doa kepada Allah. Siapapun ia, tua, muda, kaya, miskin, baik, jahat, tentulah pernah berdoa, entah itu di musholla, di kantor, di rumah, di jalan, di atas kendaraan dan di mana saja serta kapan saja. Bagi sebagian orang, doa bahkan menjadi sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. Karenanya, doa memasuki lintas pribadi, lintas kegiatan dan lintas tempat.

Seorang ibu begitu khusuk memanjatkan doa bagi putranya yang tengah dalam kesulitan, demikian pula seorang petinju akan sama khusuknya bermohon kemenangan menjelang duel dengan lawannya. Seorang ayah dalam munajatnya mengharap ampunan dan rahmat bagi keluarganya, demikian pula seorang ayah yang lain mendoakan putra-putrinya sukses dalam kariernya.

Doa bukanlah hal yang eksklusif dan mahal. Ia bisa menjadi demikian situasional. Fleksibilitas doa tersebut merupakan bukti dari kemurahan Allah terhadap hamba-hambanya. Tak ada sistim yang rumit. Demikian longgar dan leluasanya. Yang dibutuhkan hanyalah kerendahatian seseorang untuk sanggup memahami nilai kehambaannya.

Hal yang kemudian butuh kita cermati adalah, sejauh apa dan seperti apa kita memahami nilai kehambaan kita?

Percontohan hal-ihwal doa tak lain diberikan oleh para nabi Allah. Sekian banyak doa-doa yang kita kenal umumnya merupakan doa para nabi yang dinukilkan dari Alquran maupun Alhadist. Ini adalah fakta, betapa nabi sekalipun, yang notabene memiliki jalur spesifik dalam berkomunikasi dengan Allah, menunjukkan nilai kehambaannya begitu rupa.

Nabi Musa yang derajatnya seluhur itu pun secara instropektif menyadari keterbatasannya sebagai seorang hamba. Ketika Allah memberikan tugas kepadanya untuk memberi peringatan kepada Fir’aun, Musa pun mengucapkan doa: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28).

Betapa lembutnya jiwa sang nabi Musa dalam memahami nilai kehambaannya. Meskipun kerasulan telah disematkan pada dirinya serta mukjizat telah dipertunjukkan oleh Allah SWT, ia tetap sadar ruang bahwa Allah bagaimanapun juga pemilik syah dari segala kekuasaan dan segala keputusan atas diri hamba-hambanya. Maka, memahami dimensi kehambaan kita adalah suatu keniscayaan bagi siapa saja yang ingin membangun fundasi dasar atas doa-doanya. Sikap transenden seorang hamba kiranya bukanlah hal yang mengkuatirkan benar bagi seseorang yang tengah membina sisi spiritualitasnya, sehingga perlu bagi kita semua merawat sikap waspada terhadap bentuk-bentuk kesombongan pribadi baik yang halus terbungkus maupun yang menyata.

Dalam surat Al-A’râf ayat 55-56 Allah SWT berfirman: “Bermohonlah engkau kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Dan bermohonlah engkau kepada Allah dengan rasa takut dan harapan. Bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (ihsan).”[1]

Doa tak mengenal sakralitas bidang maupun ruang. Yang mulia-yang sekadarnya, yang duniawi-yang uhrowi, yang berskala besar-yang berskala kecil, yang demi pribadi-yang demi kemaslahatan, semuanya mendapat tempat. Dari hal keilmuan, pekerjaan, perjodohan, keturunan, rizki, pergaulan, keimanan, kemanfaatan, keselamatan dan sebagainya, masing-masing syah untuk dihaturkan. Hal itu mengingat kapasitas dan kebutuhan tiap-tiap hamba memang berbeda-beda. Urgensinya adalah, setidaknya, dalam bidang dan ruang apapun doa bisa menjadi salah satu sarana manusia menyadari eksistensi Allah SWT yang senantiasa terjaga memberikan tiap-tiap karunia kepada hamba-hambanya.

Yang demikian itu menjadi harapan bagi pribadi-pribadi yang merindukan kebaikan, di mana mereka senantiasa mengondisikan untuk tidak lalai dari Tuhannya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-A’râf di atas, bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang yang ihsan. Mengenai Ihsan itu, dari Umar radhiallahuanhu, Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadist: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.”

Akan hal itu, maka menunduklah bagi mereka yang terkabulkan doanya, sehingga bertambah iman dan ketaqwaannya. Sebaliknya, bagi yang belum terkabul akan bersabar dan melakukan instropeksi diri sehingga kian meningkat mutu hidup dan ibadahnya.

Adab berdoa terang sudah jelas dalam surah Al-A’râf ayat 55-56 di atas, dimana kita dituntut untuk merendahkan diri (tadzallul) sehingga terbentuk sikap pribadi yang khusyu’ (tadharru’). Doa yang sifatnya improvisatoris umumnya cenderung eksentrik, bahkan ekstrim, sebagaimana dengan mengancam, menepuk dada, main-main, over acting dengan berkeras suara, atau sebaliknya berdoa tanpa kata. Ada baiknya kita meneliti kembali, barangkali ketika berdoa ada hal-hal yang tidak selaras dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya.

Dengan segala kekurangan atas doa-doa yang kita panjatkan, semoga Allah senantiasa memberikan bimbingannya serta mengurangi kelalaian kita atas karunianya. Semoga kita dijauhkan sebagai golongan orang-orang yang melampaui batas. Keluputan dan kekhilafan adalah sifat manusia. Kebenaran dan kemanfaatan adalah keniscayaan sang Maha Pencipta. Wallahua’lam.


[1] Ayat-ayat lain mengenai doa sebagai berikut: “Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” [QS. Al-A’râf/7:205]

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (QS. 13 : 14).

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. 27 : 62).

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. 40 : 60).

“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (QS. 42 : 26).

Related Posts

About The Author

Add Comment