Fakta Ilmiah dalam Al-Quran tentang embriologi

Beberapa temuan menakjubkan yang ditemukan dalam Al-Quran dan sesuai dengan pengamatan ilmiah di antaranya adalah pernyataan Al-Quran yang berhubungan dengan perkembangan janin manusia.

Sebagai perbandingan, kita perlu memahami bagaimana keadaan ilmu pengetahuan pada masa Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam. Jika Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam mengarang Al-Quran, menulis Al-Quran itu sendiri, tentunya akan mencerminkan pemikiran-pemikiran dan konsep yang lazim pada zaman tersebut. Beliau akan mengambil pemikiran-pemikiran yang umum di antara orang-orang Arab, atau Yunani, Romawi, Mesir dan sebagainya.

Misalnya, salah satu teori yang dikenal waktu itu adalah teori Aristoteles. Aristoteles adalah salah satu orang pertama di dunia Barat, yang benar-benar membuat penyelidikan ilmiah dan teori tentang asal-usul kehidupan manusia.

Dan juga dia adalah salah satu orang yang pernyataannya telah dicatat dalam sejarah. Tapi teorinya sangat-sangat biasa. Apa yang menjadi pemikirannya adalah: bahwa sperma laki-laki bertindak sebagai semacam lem untuk mengentalkan dan membentuk darah hasil menstruasi wanita. Dari pengentalan darah menstruasi wanita itu, maka terbentuklah embrio manusia.

Hal ini didasarkan pada pengamatan, bahwa ketika perempuan hamil, periode menstruasi bulanan mereka berhenti. Karena itu ia berteori bahwa, sesuatu pasti terjadi selama periode menstruasi bulanan. Dan menurutnya darah menstruasi menjadi padat dalam rangka untuk membentuk janin manusia.

Saat ini kita menginsyafi bahwa teori semacam itu benar-benar salah. Bahkan di akhir abad ke-18, seorang pria bernama Hartsoeker mengaku berhasil melihat melalui mikroskop primitifnya, sperma berbagai binatang yang berbeda. Dan begitu melihat melalui mikroskop primitif itu, ia mengaku bahwa ia bisa melihat di dalam sperma, ada manusia kecil, seorang anak kecil yang sedang meringkuk.

Demikian pula ia mengklaim bahwa dalam sperma jerapah ia bisa melihat lehernya yang panjang dan di sperma kelinci ada telinganya yang besar dan hal-hal semacam itu. Dan ini dikenal sebagai teori praformasi. Dan di zaman modern seperti sekarang, lagi-lagi kita tahu bahwa itu adalah pendapat yang keliru.

Ini merupakan contoh bahwa teori-teori yang muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan, di kemudian hari terbukti salah dan bahkan cukup membuat kita tertawa. Dan hal itu terjadi pada masa Aristoteles serta pemikiran-pemikiran yang lazim di abad ke-18. Dan baru pada abad ke-19 kita mulai mengetahui tahap-tahap perkembangan embrio manusia dengan akurat.

Sekarang yang ingin kita periksa adalah: Apa yang Al-Quran firmankan? Jika Al-Quran adalah kitab buatan manusia, jika Al-Quran diciptakan dan ditulis oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam sebagaimana orang katakan, maka tentunya akan mencerminkan teori bodoh pada masa itu. Namun kenyataannya tidak demikian.

Dalam surah Al-Mukminun ayat 12-16 Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya nuthfah/tetesan (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, nuthfah itu Kami jadikan ‘alaq/sesuatu yang melekat , lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan muthgoh/segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan lahma/daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.

“Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat” –hal ini mengacu pada penciptaan Adam. Kaum muslimin mengimani bahwa Allah menciptakan Nabi Adam secara ajaib, tidak seperti penciptaan manusia lainnya. Allah mengambil tanah liat dari tempat yang berbeda di bumi, dan membentuk tanah liat tersebut menjadi jasad manusia dan memberikan ruh kepada jasad itu sehingga Adam tercipta. Dan dari tulang rusuk Adam, Hawa diciptakan.

Al-Qur’an melanjutkan: Kemudian Kami menjadikannya tetesan “, — dan kata dalam bahasa Arabnya adalah “nuthfah” yang berarti tetesan: “dalam tempat yang kokoh.”

embriology2Kemudian, nuthfah itu Kami jadikan ‘alaq,” –dan saya akan memberitahu Anda apa arti kata-kata ini nanti. Jadi pertama: “Kami menempatkan dia sebagai nuthfah, maka Kami membuat tetesan menjadi ‘alaq dan kemudian Kami mengubah ‘alaq menjadi sebuah muthgoh dan kemudian Kami membuat tulang dari muthgoh. Dan kemudian Kami balut tulang dengan lahma/daging, kemudian Kami membuatnya tumbuh, berwujud, dan mempunyai suatu bentuk. ”

Jadi Allah menyebutkan tahap-tahapnya: nuthfah, ‘alaq, muthgoh, lahma. Setelah tahap-tahap ini, kita mulai terlihat seperti manusia dan Allah melanjutkan: “Maha suci Allah Sang Pencipta Yang Paling Baik.”

Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.” Ini hal yang sangat penting, bahwa Allah pada saat yang sama, seiring Dia menyebutkan fakta-fakta menakjubkan dan mengejutkan yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, segera setelah itu Allah mengingatkan bahwa kita akan mati, dan kita akan dibangkitkan pada hari kiamat. Sama seperti Allah menciptakan Anda secara bertahap, dari sesuatu yang menempel, dari ‘alaq dan muthgoh dan dari laham, dari semua hal ini Allah tentunya akan menghidupkan Anda kembali pada hari kiamat.

Nuthfah berarti tetesan kecil yang dikeluarkan. Nabi Salallahu ‘alaihi wasalam menyebut Nuthfah ini sebagai milik laki-laki dan perempuan. Pada kenyataannya ia menyebutkan bahwa Nuthfah tercampur dalam penciptaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih. Nuthfah, tetesan dari seorang pria, dan dari wanita yang merupakan sel telur, tetesan kecil yang dari mereka kemudian bercampur. Hal ini sangat penting, karena Nabi menyebutkan bahwa manusia berasal dari pria dan wanita .

Kedua, kata ‘alaq dalam bahasa Arab memiliki tiga makna. Suatu benda yang melekat, gumpalan darah, dan benda seperti lintah. Bahkan ketiga hal ini secara akurat menggambarkan tahap pertama perkembangan embrio manusia.

Setelah pembuahan sel telur, sebuah embrio berkembang, yang tempat eksterior vili nya melekat pada dinding rahim, sehingga sedikit agak mirip velcro. Dia melekat erat pada uterus di dalam rahim. Inilah yang terjadi pada ‘alaq ini, sesuatu yang menempel.

Dan kemudian dia berubah menyerupai objek seperti lintah. Kesamaan ini benar-benar luar biasa, tidak hanya dalam penampilannya tetapi juga dalam sifatnya, karena lintah mengambil darah dari inangnya, begitu juga tahap ‘alaq mengambil nutrisi dan darah si ibu. Jadi inilah dia, ia berlanjut dan juga mencerminkan tahap terbaru setelah gumpalan darah.

Ini yang pertama. Kata ‘alaq menggambarkan dengan tepat perkembangan tahap pertama embrio manusia. Ini mustahil bisa diketahui 1.400 tahun yang lalu, kecuali dengan petunjuk Allah Yang Maha Tahu. Hal ini tidak mungkin karena tahap perkembangan embrio ini adalah sesuatu yang hanya dapat diamati dengan mikroskop, sebuah teknologi yang selama berabad baru ditemukan kemudian.

Namun deskripsi yang akurat ini disebutkan dalam Al-Quran 1.400 tahun yang lalu. Jadi disebutkan kemudian dari tahap ‘alaq kemudian menjadi muthgoh, yang berarti seperti sepotong daging yang dikunyah. Dan memang seperti itulah bentuknya. Al-Quran juga berfirman “Sebagian terbentuk dan sebagian lagi belum terbentuk.”

Sehingga ada bagian yang terbentuk, sedangkan bagian yang lain belum terbentuk. Dan jika Anda lihat pada tahap ini, tampak persis seperti sepotong daging yang dikunyah. Kemudian yang menakjubkan adalah bahwa tulang mendahului perkembangan daging.

Tulang terlebih dahulu terbentuk dan kemudian daging membalutnya, meskipun waktu antara pertumbuhan tulang dan daging sangat-sangat dekat. Dan ini sangat menarik karena kata yang digunakan, istilah yang digunakan dalam bahasa Arab dalam Al-Qur’an, kata tersebut mengindikasikan kecepatan: satu hal yang diikuti oleh hal yang lainnya dengan jangka waktu yang sangat dekat, bahkan struktur dari kata-katanya dalam bahasa Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan embrio manusia.

Dan kemudian Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam mengatakan: ketika 42 malam telah lewat, kemudian Allah mengirimkan seorang malaikat pada janin itu, yang kemudian membentuk telinga, mata, kulit, daging, tulang dan kemudian dia berkata: “Ya Tuhan, apakah anak ini dijadikan laki-laki atau perempuan?”

“Dan Tuhanmu memutuskan apa yang Dia inginkan dan kemudian malaikat mencatat hal ini.” Ini juga suatu fakta karena Anda tidak dapat menentukan jenis kelamin janin sampai 42 hari berlalu. Tentu ini adalah bukti bahwa Al-Quran berasal dari Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul-Nya. @Sebagaimana dituturkan oleh Abdur Raheem Green dalam The Proof that Islam is The Truth, dengan penyuntingan redaksi.

 

Related Posts

About The Author

Add Comment