Busana kaum wanita: cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka

O l e h  Abu Alif Alfatih

Kain kebaya adalah pakaian terindah yang memenuhi standar peradaban berbusana kalangan aristokrat perempuan Jawa. Bukan itu saja, warna dan modelnya bahkan tercetus dari penghayatan estetis dan simbolis pemakainya. Motif-motif kain batik yang ratusan macamnya itu merefleksikan nilai dari penghayatan tersebut. Misal, motif sido asih, melambangkan hubungan kasih-sayang manusia. Motif wahyu tumurun, melambangkan nuansa spiritual transendensi seseorang. Motif parang, melambangkan wibawa kekuasaan. Dan banyak lagi semacam itu.

Meskipun juga, seiring dengan laju waktu, ketegangan sakralitasnya menjadi cair ketika Sri Sultan Hamengkubuwana IX, seorang raja Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikenal memiliki orientasi kemaslahatan, atas dasar pertimbangan mendukung perkembangan perekonomian rakyat, beliau memperbolehkan kalangan bawah memprodusir dan mengenakan motif-motif batik tertentu yang awalnya hanya boleh dikenakan kalangan bangsawan saja.

Maka, standar peradaban dalam budaya berpakaian pun bergeser. Lebih rileks. Sampai akhirnya, karena alasan kepraktisan, selera, dan kepentingan gaya, dewasa ini pakaian jenis apapun tak ada problem dikenakan oleh perempuan Jawa.

Pada era 70-an rok mini menjadi trend yang banyak digemari perempuan Indonesia, tak terkecuali di Jawa. Terang ini melingkar sangat jauh dari kain kebaya yang relatif anggun dan sopan karena memanjang sampai mata kaki pemakainya. Pada era yang sama, bahan sintetis kain nylon yang menimbulkan efek mengkilau, pun menjadi kegemaran perempuan-perempuan Indonesia. Betapapun juga secara iklim kain nylon sebenarnya tidak secocok dengan kain batik yang umumnya terbuat dari bahan katun. Diluar segala pertimbangan etik maupun iklim, yang demikian itu toh tidak menjadi hambatan berarti. Pada zamannya, kegemaran yang demikian bolehlah dibilang sebagai cerminan kemajuan suatu pergaulan yang disinonimkan dengan “modern”.

Dan saat ini, gaya berpakaian menjadi tak terhitung jumlahnya. Fashion adalah dunia tersendiri yang selalu ramai menawarkan pelbagai rancangan-rancangan mutakhirnya. Yang bergerak di luar bidang itu pun telah sedemikian bebas mengakomodir seleranya dalam berpakaian dengan referensi iklan dan etalase-etalase mall yang gemerlapan. Standar peradaban dalam budaya berpakaian tidak lagi terikat oleh suatu nilai, melainkan lebih cenderung bergerak mengikuti alur trend yang sedang mencuat. Dari celana pensil, kebaya transparan, baju junkies, kerudung pop, bahkan banyak pula busana muslim inovatif yang ketat dan hingar-bingar, semuanya ada. Semua orang bisa membeli dan memakainya, bergantung dari isi kantongnya.

Lain halnya dengan suku-suku pedalaman yang tak tersentuh dengan perkembangan dan tata-warna peradaban. Suku Asmat yang hanya mengenakan rumbai-rumbai jerami untuk menutupi kemaluannya, tanpa mengenakan baju untuk menutupi dada atau payudaranya, telah menjadi pemakluman bersama karena situasi mereka yang alamiah demikian.

Syahdan, adab berpakaian menjadi berbeda-beda bergantung pada budaya dan pandangan hidup tiap-tiap orang atau masyarakat. Semakin tinggi peradaban suatu masyarakat, semakin pula mempertimbangan banyak nilai karenanya—etika, estetika, iklim, kesehatan, dan tidak ketinggalan: gaya!

Busana laki-laki umumnya aman-aman saja dan jarang digunjingkan. Namun busana perempuan selalu marak dan sering menjadi perhatian. Media massa bahkan memberikan kapling dan sorotan yang lumayan. Tentu semuanya sudah insyaf, bahwasannya wanita adalah mahluq Allah yang pada dirinya mengandung berlapis-lapis keindahan yang bisa memesona siapa saja. Busana di satu sisi menjadi penutup keindahan itu, mengingat dampak psikologis maupun sosialnya sering bernilai negatif, bahkan destruktif, baik bagi pelaku maupun lingkungannya. Namun di sisi yang lain busana pun memproyeksikan lekuk-liku badan perempuan secara berlebihan, bahkan bisa memanipulasi kekurangan-kekurangan menjadi erotika-visual yang menakjubkan.

Busana Perempuan dalam Islam

Perempuan dalam masing-masing kadarnya memiliki naluri berhias dan menunjukkan keindahan dirinya kepada orang lain, baik lain jenis maupun sesama jenis. Selanjutnya, jika naluri semacam itu tidak dididik secara terarah, ia akan mengembang menjadi ekspansif sifatnya, yang tidak hanya menunjukkan kepada orang-orang tertentu saja, namun menjadi kepuasan tersendiri manakala kuantitas penikmatnya semakin banyak.

Memang, yang demikian itu muncul secara alamiah. Naluri sendiri merupakan tabiat dari sisi alami manusia. Meskipun juga, naluri yang muncul dari sisi alami itu tidak serta-merta lantas mewakili ekspresi kejujuran yang tak bisa ditawar-tawar. Dalam keberadaannya, naluri pada dasarnya bisa dididik, dibina, dan diarahkan pada hal-hal yang nilainya positif.

Dalam batas-batas yang ditentukan, Islam sebenarnya telah mengakomodir naluri perempuan sebagaimana tersebut di atas. Sehingga, hal yang terkait dengan estetika, bahkan gaya, bukanlah sesuatu yang mutlak terlarang. Sebagai contoh, kaum perempuan diijinkan mengenakannya dan mempertunjukkan kepada orang-orang tertentu, sebagaimana disebutkan Allah SWT dalam firmannya:

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS an-Nuur: 31).

Ibnu Abbas—sebagaimana pula Imam Ahmad dan Imam Syafi’i, serta ulama lain yang sependapat—menafsirkan kutipan firman Allah Ta’ala di atas “Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” sebagai wajah dan kedua telapak tangannya[1]. Tafsir ini diikuti mayoritas kaum muslimah di Indonesia, yang umumnya mengenakan busana jilbab dan mengenakan rok panjang yang longgar dan tidak transparan.

Sementara Ibnu Jarir berpendapat, bahwa yang dimaksud dari ayat di atas adalah wajah dan pakaian. Pengertian perhiasan di sini lebih majazi, merujuk pada estetika penampilan perempuan secara keseluruhan. Artinya, betapapun juga seorang perempuan telah berbusana, namun jika daripadanya masih memancarkan suatu keindahan, maka masih perlu dihijab dari pandangan yang bukan mahramnya. Pendapat yang terakhir ini pun banyak dianut sebagian muslimah yang apabila keluar rumah oleh karena suatu kepentingan, menutup pakaian mereka dengan jilbab dan menutup wajah mereka dengan niqab (cadar).[2]

Dalam ayat yang lain, busana dalam fungsinya sebagai hijab (penghalang) juga termaktub dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS al-Ahzab: 59).

Namun demikian, dalam ayat yang lain lagi ada pengecualian terhadap perempuan tertentu dengan kriteria sebagaimana firman sbb:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan”. (QS an-Nuur: 60).

Bukan hanya busana yang minimalis saja yang mendapatkan sorotan. Pakaian yang menjuntai berlebihan—yang notabene mengesankan suatu kesopanan—namun mengandung tabiat eksibitif dan ekspansif pun tidak dibenarkan. Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang menurunkan pakaianya di karenakan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat“. Maka Umu Salamah bertanya kepada beliau: “Lantas bagaimana dengan baju perempuan”. Beliau menjawab: “Turunkan sejengkal“. Umu Salamah masih menawar: “Kalau begitu mata kaki mereka kelihatan”. Beliau mengatakan: “Turunkan satu diro’, tidak lebih dari itu“. HR Bukhari dan Muslim serta selain keduanya.

Selain dalil dari Al-Quran, masih banyak lagi dalil-dalil lain yang termaktub dalam sunnah[3] mengenai pentingnya hijab bagi perempuan. Maka jelaslah kiranya, Islam memandang tabiat eksibitif dan ekspansif sebagai sesuatu yang perlu untuk dikontrol. Batasan-batasan yang diberlakukan dalam Islam tiada lain merupakan tindakan preventif yang baik nilainya bagi siapa saja yang bersedia mengamalkannya. Perbedaan tafsir dari berbagai ulama bukanlah hal yang patut diruncing-runcingkan, bahkan sebaliknya bisa dijadikan sebagai kekayaan referensi bagi setiap muslimah yang memiliki i’tikad baik menjaga kesucian lahir dan bathinnya. Bagaimanapun, bertindak preventif atas hal-hal yang cela dan bisa membawa fitnah merupakan suatu kerendahhatian yang mulia. Sebagaimana firman Allah yang mengatakan: “Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS al-Ahzab: 53).

Karenanya, kebudayaan pun perlu lebih dewasa dan terbuka dalam memberikan tempat bagi para muslimah—yang betapapun belum lazim—berusaha mengikuti adab berbusana berdasarkan hukum-hukum Alquran dan Alhadist. Lazim dan tidak lazim pada dasarnya hanyalah persoalan mayoritas dan minoritas semata. Dan yang mayoritas, selalu memiliki hukum-hukum kelaziman yang lebih kuat dari yang minoritas, betapapun juga kelaziman itu kadang lebih banyak mendatangkan kemudharatan daripada kemanfaatan.

Bagi yang beriman, peletakan hukum-hukum yang merujuk kepada Alquran dan Alhadist merupakan sesuatu yang niscaya dilakukan, sejauh ia mampu memahaminya. Dan jikapun pemahaman yang telah dimiliki belum sampai menjadi amalan, seyogyanyalah tidak berapologi, apalagi mencibir, atau menciptakan penalaran yang bertentangan. Sebaliknya, bermohon atas bimbingan dan petunjuk kepada Allah SWT untuk lebih didekatkan dengan jalan yang benar, tentu akan menjadi satu keterbukaan dan kerendahatian yang kian mengukuhkan aqidah seseorang. Amin.


[1] Tafsir Ibnu Katsir 3/28.

[2] Memang ada hadist sahih yang menunjukkan bahwa pwnggunaan niqab telah dikenal, tetapi tidak menunjukkan bahwa hukumnya wajib, atau hal itu yang dimaksudkan ayat tersebut (tahqiq Syekh Muhammad Nashiruddin Al-albani, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, Hijab dan Pakaian Wanita dalam Salat hal. 25)

[3] “Apabila salah seorang di antara kalian ingin mengkhitbah seorang wanita maka tidak mengapa ia melihatnya, karena dengan melihat memungkinkan ia lebih cocok untuk meminangnya dari pada apabila ia tidak mengetahuinya”. HR Ahmad.

“Adalah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika biasa melaksanakan sholat shubuh, maka (ada sebagian) kaum wanita yang ikut serta bersama beliau, (mereka keluar) sambil menutupi tubuhnya dengan selimut-selimut mereka, kemudian mereka kembali kerumahnya sedangkan tidak ada yang saling mengetahui wajah- wajah salah satunya di karenakan harinya yang masih sangat gelap”. (Diriwayatkan Bukhari Muslim, dari Aisyah ra)

“Apabila ada di antara salah seorang di antara kalian mukaatib—budak yang memerdekakan sendiri dari tuannya dengan cara membayarnya— sedangkan ia berada di sisinya maka hendaknya ia berhijab darinya“. HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan di shahihkan oleh Imam Tirmidzi.

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir”. (QS al-Ahzab: 53).

“Tidak berdosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir)dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka,saudara laki-laki mereka..”. (QS al-Ahzab: 55).

 


 

Related Posts

About The Author

Add Comment