Kisah mengharukan Bung Hatta: mesin jahit dan sepatu bally yang tak terbeli

SIAPA yang tak mengenal wakil presiden yang pertama ini. Foto-fotonya beredar di mana-mana bersanding dengan sejawat perjuangannya yang namanya begitu membahana, Ir. Soekarno. Dari foto-fotonya itu kita mendapati sosok Bung Hatta adalah seorang yang sederhana.

Sebagai seorang intelektual, pemikiran-pemikiran beliau selalu berorientasi pada kepentingan kemaslahatan umat. Menurut Bung Hatta, konsep kebangsaan model apapaun tidak akan berguna jika terlepas dari nilai kemaslahatan. Kebijakan pemerintahan mestilah memerhatikan apa yang menjadi kepentingan rakyatnya.

Sebagai orang nomor dua di negeri kaya-raya, hidup beliau sama sederhananya dengan masyarakat pada jamaknya. Konon, beliaupun kadang repot tidak bisa membayar tagihan rekening listrik atau air di rumahnya.

hatta1Salman Alfarizi dalam sebuah bukunya Muhammad Hatta; Biografi Singkat 1902-1980 mengutip salah satu kisah mengharukan dimana istri Bung Hatta, ibu Rahmi (panggilan akrabnya adalah Yoeke), harus urung membeli sebuah mesin jahit karena tiba-tiba ada pemotongan uang. Ibu Rahmi pun komplin kepada suaminya, kenapa ia tidak diberitahu sebelumnya. Bung Hatta menjawab dengan sabar, “Yoeke, rahasia negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.”

Tentu saja, kesederhanaan beliau ini tak terlepas dari sikap teguhnya dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang sejak mula ditanamkan oleh keluarganya. Sejak kecil, beliau dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Ayah beliau merupakan seorang keturunan ulama di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat.

Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca Perang Padri. Selain belajar agama di lingkungan keluarga, Bung Hatta juga pernah belajar agama kepada para ulama seperti Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.

hatta_danibukulangka.blogspot.commmAda satu kisah mengharukan yang lain dari Bung Hatta yang hingga kini begitu mengesan, yaitu minatnya untuk memiliki sepatu Bally. Sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu teralokasikan untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang sedang kesusahan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. @ Baca artikel inspiratif selanjutnya  Agus Salim, seorang menteri yang hidupnya pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain


Catatan: Pemotongan uang atau populer dengan Gunting Sjafruddin adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10 Maret 1950. Menurut kebijakan itu, “uang merah” (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00.

  • foto atas, Hatta kecil berangkat sekolah diantar kereta kuda
  • foto tengah, Bung Hatta bersama keluarga 
  • foto bawah, Hatta kecil dan kakanya
  • Sumber foto: repro langka.blogspot.comm

Related Posts

About The Author

Add Comment