Batas Yang Nyaman

Oleh Abu Alif Alfatih

Sahabat yang budiman. Adakalanya seseorang dalam kondisi kekurangan karena penghasilan tak sepadan dengan pengeluaran. Karenanya, ia bermohon rizki kepada yang maha memberi. Dan ini adalah hal yang lazim dilakukan siapa saja dalam usaha memperbaiki taraf hidupnya. Meski juga, peningkatan penghasilan belum tentu menjadi solusi masalah yang dihadapi. Banyak fakta di sekeliling kita, ketika penghasilan seseorang meningkat, laju kebutuhan pun menjadi berlipat. Karenanya, keadaan selalu kurang dan kurang saja.

Jika difikirkan, hidup memang tidak gampang. Kebutuhan yang paling dasar sekalipun, seringkali sulit dipenuhi. Betapa harga rumah yang ratusan juta kerap menindih nyali mereka yang dalam penghasilan serba pas-pasan. Boro-boro membangun rumah, untuk memenuhi kebutuhan harian saja terkadang masih kurang. Sementara geliat sekeliling yang nampak mata bagai tiada habisnya: rumah-rumah yang mentereng, kendaraan-kendaraan yang keren, hiburan-hiburan yang mencengangkan, kedudukan sosial yang berkilauan, dan semacamnya. Yang berada di garis sederhana, seakan terlalu utopis buat menjangkaunya.

Ya. Hidup memang tidak gampang. Tapi pernahkah kita merenungkannya: dari berpuluh tahun waktu yang serba sempit di masa yang lalu, bukankah kita telah mampu melaluinya dengan gilang gemilang? Itu bukanlah waktu yang sedikit jika dibentangkan sejak kita kanak-kanak hingga kita berdiri di titik kini. Kita telah mengalami segala bentuk tempaan, yang seharusnya kian menguatkan. Sungguh hal yang mengherankan manakala kita masih saja rempong dihantui rasa was-was perihal keadaan kini ataupun yang akan datang. Karena, kita toh telah mampu melalui segalanya. Dan terbukti kita bisa mengatasi segala perkara.

Bisa kita runut, betapa badai hidup paling ganas sekalipun telah mampu kita jinakkan: kesulitan ekonomi, kematian orang yang kita cintai, problem keluarga, keruwetan pergaulan, sulitnya mencari pekerjaan, perkara bertetangga, dan lain-lain semacamnya. Adalah hal yang menakjubkan bahwa hingga detik ini kita masih sehat dan bugar tanpa kurang suatu apa. Di sini kita insyaf, bahwa setiap insan yang lemah dan serba repot, sebenarnya senantiasa berada dalam naungan yang maha menjaga. Dan kita patut mengakuinya. Kita patut mensyukurinya.

Bahwa kemakmuran dalam makna kebendaan bukanlah hal yang terlarang. Namun begitu tidak berarti harus menderitakan mereka yang belum kebagian. Ia patut diupayakan, tapi tidak menjadi suatu keharusan kepemilikan. Memang, segala yang berlabel ‘harus’ selalu memprodusir ketegangan. Meruntuhkan rasa syukur yang kita pahati saban hari. Mengkusutkan hati yang dari waktu ke waktu kita tata-teliti. Dan bahkan, menafikan ketabahan kita sendiri yang selama ini kita miliki.

Barangkali, tanpa menyadari, kita ini terlalu asyik masuk dalam kegaduhan-kegaduhan yang hakekatnya tak kita perlukan. Kita toh kepingin sekedar bahagia, dan tidak berarti harus memiliki segala yang ada dalam khayal kita. Sementara dunia terus berdandan dalam sepenuh kekenesannya, terus mengaburkan pandangan umat manusia, menyuguhi kita rayuan-rayuan yang memabukkan. Dalam itu, ada baiknya kita membuat jarak, lebih khidmat menundukkan kepala: betapa banyak saudara kita yang jauh dan jauh lebih susah daripada keadaan kita.

Ketika kita sedang makan bersama keluarga, pada saat yang sama mungkin ada yang tengah berjuang dalam sakitnya. Ada yang mengembara tanpa rumah dan tanpa sanak saudara. Ada yang menggotong sampah dari satu tempat ke tempat lain untuk menafkahi keluarganya. Ada yang pontang-panting dan terampas ketentramannya karena jabatannya. Ada yang terusir dari negerinya. Ada yang menggantung diri. Ada pula yang tertembak mati.

Sahabat yang budiman. Mungkin kita dalam suatu masalah. Mungkin kita merasa serba berkekurangan. Tapi nyatanya kita masih jauh di bawah segala gawat dan khianat. Kita masih berada di batas yang nyaman. Terlalu leluasa buat kita memilih menjadi tegar dan bersabar. Terlalu leluasa buat kita untuk mengetuk pintu-pintu syukur atas segala kurnia yang selama ini mungkin kita remehkan. Kita tak perlu berlari dan mengingkari. Kita tak perlu mengutuk diri dan berciut nyali. Karena masalah akan terus ada, demikianlah fitrah hidup manusia. Allah subhanahu wataala telah berfirman:

”(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” Q.S. Al Hadid ayat 23

Yogya, 14 Juni 2015

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment