Allison Stevens: pengakuan perempuan atheis yang memeluk Islam

Nama saya Allison Stevens. Saya sekarang berusia lima puluh satu tahun dan masuk Islam ketika berumur 47 tahun. Saya lahir di Inggris, tapi orang tua saya asli Irlandia, Skotlandia. Ayahku bekerja di industri minyak. Jadi kami sering pindah ke banyak tempat. Seolah saya tidak memiliki kelompok tetap di mana saja. Pada tahun 70 kami akhirnya tinggal di Skotlandia.

Selain pergi ke kebaktian gereja dengan sekolah pada waktu Natal, di rumah saya tidak ada pendidikan agama sama sekali. Di sekolah menengah Skotlandia ada beberapa pelajaran agama yang wajib. Tetapi kami sangat membenci itu. Karena pada saat itu sebagian besar dari kami adalah orang-orang sekuler yang tidak melihat nilai penting agama. Dan tentu tidak menikmati pelayanan gereja, bahwa kita harus pergi ke Natal.

Kami menghormati agama. Saya selalu menghormati orang-orang yang beragama, meskipun bagi saya itu hal tidak perlu. Saya tidak merasakan kerinduan tertentu. Jujur, waktu itu ​​aku merasa agamalah yang menyebabkan timbulnya masalah. Saya lebih tertarik pada kondisi manusia dan kepedulian merawat sesama manusia.

Aku menyebut ateis. Sembilan puluh sembilan persen ateis. Meskipun juga ada bagian kecil diri saya menolak menyebut diri benar-benar ateis. Ya, waktu itu rasanya saya benar-benar tidak butuh agama. Sama sekali.

Rumah sakit saya merekrut beberapa orang evangelis Kristen yang sangat taat. Tapi pada kenyataannya mereka menempatkan saya benar-benar makin menjauh dari agama. Ya, mereka membuat saya makin menjauhi. Saya ingin non-religius tapi apa yang terjadi setiap hari ketika saya pergi untuk bekerja mereka membuka Alkitab yang selalu mereka kutip. Alkitab menempatkan saya sebagai orang yang tidak beragama.

Sebagai pembalasan saya pergi aku keluar saya beli banyak kitab-kitab: Quran, Taurat, 365 hal tentang Dalai Lama. Tentu saya tetap seorang ateis. Sehingga ketika mereka pergi bekerja pada hari Senin saya jejer kitab-kitab itu di samping mereka. Supaya ketika mereka melihat saya, mereka pikir saya juga tertarik agama.

Saya pikir sudah waktunya Anda melebarkan cakrawala Anda. Saya sangat marah pada mereka karena mereka membelah umat menyebabkan banyak masalah. Dalam beberapa hari mereka meminta saya untuk membuang kitab-kitab itu. Mereka berjanji tidak akan lagi bergunjing soal  agama.

Oke. Akhirnya saya bawa kitab-kitab itu ke rumah. Saya baca sekilas-sekilas dan cepat saja. Dan ya, tidak merasakan apa-apa dari buku itu. Saya buka Al-Quran juga dan berpikir, oh, Quran cuma membahas ini dan itu. Saya coba membaca cepat saja melalui bab pertama tentang wanita (An-Nisaa). Saya mulai membacanya dan surat (maaf saya cukup emosional) getarannya cukup mendalam, bahkan sekarang surat itu masih mengesan cukup mendalam.

Saat membacanya saya berpikir: Inilah yang saya cari. Lalu saya membaca lebih banyak dan merenunginya. Tapi lama-lama sulit menjadi percaya pada apa yang kubaca. Jadi saya tutup buku itu, dan saya pikir saya tidak akan membacanya lagi.

Tapi beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk membaca kembali. Saya merasa ada keindahan yang sangat menyejukkan. Sangat mendalam maknyanya. Kata-katanya sangat powerfull, padahal saya cuma membaca kata perkata.

Saya mencoba untuk merasionalisasi dan terus membaca dan semakin saya baca semakin masuk akal. Saya katakan itu benar-benar seperti cahaya yang telah dinyalakan. Sangat aneh untuk seseorang yang begitu melawan agama. Dan saya ingat sebelumnya saya berusaha mati-matian tidak percaya apa yang saya baca. Saya menolak itu, dan pada satu titik menutup Quran saya pikir saya tidak akan pernah membaca ini lagi. Saya tidak akan membaca lagi.

Tapi aku tak bisa melakukannya. Itu sangat kuat. Itu hal yang sangat kuat. Sehingga setelah membaca beberapa bab, yang saya pikir adalah mungkin terjemahan saya salah. Lalu saya memutuskan untuk mengunjungi masjid. Saya memilih masjid yang jauh dari tempat tinggal saya karena aku tidak ingin orang melihat saya. Imam di situ membenarkan apa yang saya baca bukan terjemahan yang paling indah katanya, tapi sebenarnya akurat.

Dia bertanya apakah Anda berencana untuk masuk Islam? Saya jawab, maaf, tentu saja tidak. Saya baru saja membeli buku dan saya mencoba untuk membuat semacam latihan intelektual. Tapi ada sesuatu jauh di dalam diri saya yang berubah sangat dramatis. Sesampai di rumah, saya ingat Imam terus berkata kepada saya itu adalah hari yang sangat istimewa. Saya baru tahu ketika menyalakan televisi, ternyata hari itu hari kelahiran Nabi Muhammad.

Jadi bagaimana Anda dapat mengabaikan sesuatu seperti itu? Sehingga beberapa hari kemudian saya datang untuk bekerja dan saya mendekati rekan Muslim. Dia seorang dokter. Dia pikir aku akan memberitahu sesuatu yang mengerikan tentang pasien. Ketika saya mengatakan pikiran saya, dia cukup terkejut. Dia kemudian dengan lembut membimbing saya.

Saya tak merasa dipaksa atau terpaksa. Itu lebih banyak karena keputusan yang saya buat. Saya mempertanyakan diri saya terus-menerus, apakah itu semacam krisis usia paruh baya? Tapi Anda tahu mestinya saya menjadi seorang kristen karena lebih sesuai tradisi saya. Tapi aku sadar itu tidak cocok untuk saya. Setelah beberapa minggu dengan dia, saya pun bersyahadat. Saya melakukannya benar-benar sukarela. Saya hanya menemukan di dalamnya kebenaran. @ Sebagaimana dituturkan Allison Stevens. Lihat videonya DI SINI

Related Posts

About The Author

Add Comment