Air Mata sang Khalifah

Oleh Abu Alif Alfatih

JUMAT 10 Shafar tahun 99 Hijriyah adalah hari bercahaya dalam tarikh Islam bagi Bani Umayyah. Hari dimana seorang pemimpin agung, Umar bin Abdul Aziz dinobatkan sebagai khalifah, menggantikan pendahulunya, Sulaiman bin Abdul Malik, yang mangkat karena sakit.

Banyak riwayat masyhur yang mencatat, bahwa pada saat pengangkatannya Umar bin Abdul Aziz justru berlinangan air mata mengingat apa yang diterimanya adalah sebuah amanah yang bukan sembarang, yang terkait dengan tanggung jawab besar atas peri kehidupan segenap rakyat yang dipimpinnya. Cicit Umar bin Khattab itu berkata, “Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Raji’uun. Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”

Tak ada selebrasi berlebih di situ, karena setiap yang tergaris disadari sebagai titah yang bermula dan kembali kepada sang maha kuasa. Bahwa seorang pemimpin justru berada dalam jiwa yang gentar buat memikul segala titipan. Sebaliknya, di batas paling mutakhir ini kita justru menemu hakikat kepemimpinan yang mulia itu demikian terpuruk menjadi komoditas yang diincar dan diperebutkan.

Ya. Di titik itu, kita dibaluri ironi-ironi yang menyesakkan. Dan bukan perkara gampang untuk menetapi kiblat nilai yang bisa menjadi suatu pedoman. Semangat kita dalam eling lan waspada demikian rentan dirobohkan oleh hingar-bingar segala hal yang nampak keren dan gemerlapan. Tiap-tiap kita dikepung rasa was-was menjadi minoritas. Kita menjadi begitu pelit memahami kebaikan-kebaikan yang berada di sekeliling kita. Kita berada pada garis kabur: antara membela pemimpin yang kita idamkan atau sekedar melampiaskan hasrat buta semata.

Syahdan, airmata sang khalifah adalah tamparan atas segala kekanakan itu. Di situ persoalannya sama sekali berbeda. Di situ alamat pengabdian jelas ada. Di situ keadilan bukan semata utopia. Di situ kesejahteraan bukan berarti hedonia yang menjajah kesederhanaan manusia. Di situ ideologi mampu mendekatkan kebijakan-kebijakan besar dengan realitas keseharian. Di situ sang pemimpin menjadi suri tauladan yang terus memupuk nilai-nilai baik bagi kehidupan masyarakatnya.

Tentu kita tidak muluk melakukan suatu pengandaian dengan mengharap kesalehan kepemimpinan yang steril demikian. Karena tiap-tiap zaman melahirkan masing-masing peradaban yang tak bergulir sendirian. Pemimpin maupun bangsa yang dipimpin adalah dua kutub yang menghubungkan peradaban itu dalam satu garis nasib suatu bangsa. Karena pemimpin adalah cerminan masyarakatnya, demikianlah sabda-sabda menggaungkannya.

Dan kita menginsyafi, presiden terpilih, pemimpin ormas terpilih, lurah terpilih, RT terpilih, siapapun dia, bukanlah manusia yang sempurna. Dan begitulah sepatutnya kita menempatkannya, supaya terhindar dari pengharapan berlebihan yang bisa meredusir kedewasaan kita menjadi kemanjaan yang kolokan. Supaya ada mekanisme sehat yang memberi peluang saling mengoreksi dalam upaya bersama memayu hayuning bawana. Artinya juga, bahwa kekurangan-kekurangan seorang pemimpin menjadi tanggung jawab siapa saja untuk mengawal dan mendampinginya.

Dalam ihwal ini semua memiliki hak setara untuk menetapi kewajibannya. Karena tiap-tiap jiwa beroleh panggilan sebagai duta-duta kehidupan buat menorehkan kebajikan bagi kemaslahatan, dalam masing-masing peran dan kadar kemampuan. Ya, negeri ini butuh dijaga oleh siapa saja yang ikhlas berada di garis perjuangan, yang tidak larut dalam kelalaian sentimen selera atau kepentingan golongan yang bisa mengkerdilkan keluhuran cita-cita bersama.

Air mata sang khalifah adalah wanti-wanti yang tersembunyi, bahwa segala yang kita kukuhi bagaimanapun juga akan berujung fana.

Yogya, 6 Agustus 2014

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment