Abu Dzaar, sang pelurus penguasa

Sabda rasulullah saw:

“Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Abu Zar, yang hidup menyendiri, mati menyendiri dan akan dibangkitkan sendiri”

Oasemuslim | Abu Dzaar al-Ghifari bernama asli Jundab bin Junadah, dinisbatkan kepada kakeknya, Junadah, yang berasal dari suku Ghifar. Abu Dzarr adalah orang yang tekun beribadah sejak sebelum diutusnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ia menjadi sahabat kelima yang lebih dulu masuk Islam. Sahabat dekat rasulullah yang meriwayatkan hadits sebanyak 281 hadits ini, baru bisa berhijrah setelah perang Khandaq.

Abu Dzaar dikenal hidup zuhud, tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok. Namun karena didorong oleh rasa kemanusiaan, di masa pemerintahan Utsman ia mengajak orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal. Namun Khalifah Utsman bin Affan tidak tertarik akan gagasan itu. Selanjutnya beliau mengasingkan diri ke Rabadzah dan menetap di sana sampai wafatnya.

Semasa Jahiliah beliau telah melarang minum khamr dan tidak pernah ikut menyembah berhala yang dilakukan masyarakatnya, oleh sebab itu beliau terkenal orang takwa. Beliau mengikuti penaklukan Baitulmakdis bersama khalifah Umar bin Khatab. Rasulullah pernah bersabda tentang beliau “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Abu Zar, yang hidup menyendiri, mati menyendiri dan akan dibangkitkan sendiri”.

Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Beliau tegas menentang orang-orang yang memupuk harta untuk kepentingan pribadi, tak terkecuali sahabat-sahabatnya sendiri.

Di masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.

Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al-Khizra, abu Dzar menegur, “Kalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,” katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.

Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara’ dan zuhud selalu menghiasi perilaku hidupnya. Sikapnya beliau iniberoleh pujian dari Rasulullah. Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Abu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.” Dan benar, hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan keshalihan.

Abu Dzar terlahir dengan nama Jundab. Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.

Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.

Di tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner terkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Akhirnya Abu Dzar hijrah ke sebuah kampung dekat Mekkah. Di tempat inilah ia mendapat kabar dari Anis, tentang kehadiran seorang lelaki muda yang mengikrarkan diri sebagai utusan Allah.

Abu Dzar pun segera menemui sang Rasul. Melihat ajarannya yang sejalan dengan sikap hidupnya selama ini, akhirnya ia pun masuk Islam. Tanpa ragu-ragu, ia memproklamirkan keislamannya di depan Ka’bah, saat semua orang masih merahasiakan karena khawatir akan akibatnya. Tentu saja pernyataan ini menimbulkan amarah warga Mekah. Ia pun dipukuli dan hampir saja terbunuh bila Abbas, paman Rasulullah , tidak melerai dan mengingatkan warga Mekah bahwa Abu Dzar adalah seorang suku Ghiffar, yang akan menuntut balas jika mereka membunuhnya.

Sejak itu, Abu Dzar menghabiskan hari-harinya untuk mencapai kejayaan Islam. Tugas pertama yang diembankan Rasul di pundaknya adalah mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Ternyata, bukan hanya ibu dan saudaranya, namun hampir seluruh kaumnya yang suka merampok pun akhirnya masuk Islam. Sikap hidupnya yang menentang keras segala bentuk penumpukkan harta, ia sampaikan juga kepada mereka. Namun, tak semua menyukai tindakannya itu. Di masa Khalifah Utsman, ia mendapat kecaman dari kaum Quraisy, termasuk salah satu tokohnya, Muawiyah bin Abu Sufyan.

Suatu kali pernah Muawiyah yang kala itu menjadi Gubernur Syiria, mengatur perdebatan antara Abu Dzar dengan para ahli tentang sikap hidupnya. Tujuannya agar Abu Dzar lebih luwes terkait pendapatnya yang kukuh perihal penumpukan kekayaannya. Namun, usaha itu tak menggoyahkan keteguhan pandangannya. Muawiyah pun melaporkan kepada Khalifah Utsman ihwal Abu Dzar. Dan Khalifah segera memanggilnya. Memenuhi panggilan Khalifah, Abu Dzar mendapat sambutan hangat di Madinah.

Namun, ia pun tak kerasan tinggal di kota Nabi tersebut karena orang-orang kaya di kota itu pun tak menyukai seruannya untuk pemerataan kekayaan. Akhirnya Utsman meminta Abu Dzar meninggalkan Madinah dan tinggal di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah.

Di kampung inilah Abu Dzar wafat karena usia lanjut pada 8 Dzulhijjah 32 Hijriyah. Jasadnya terbaring di jalur kafilah itu hanya ditunggui jandanya. Hampir saja tak ada yang menguburkan sahabat Rasulullah ini bila tak ada kafilah haji yang menuju Mekkah. Kafilah haji itu segera berhenti dan menshalati jenazah dengan beliau.

Disarikan dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani VII/60, Thabaqaat Ibn Sa’ad IV/161, dengan penataan redaksi.

 


 

Related Posts

About The Author

Add Comment